My rating: 3 of 5 stars
Sebagaimana karya Eyang yang lain, puisi dalam buku ini sederhana dan menyenangkan. Yang mengherankan, saya tidak pernah bosan untuk membacanya. Untuk itu, saya tidak pernah ragu untuk mengatakan bahwa membaca puisi-puisi Eyang seperti self-healing bagi saya. Terdengar berlebihan memang, tapi saya berkata apa adanya.
Saya bisa saja membaca ulang puisi-puisi tersebut dua sampai tiga kali. Bukan karena bait-bait puisinya yang sulit dimengerti, tapi karena saya jatuh cinta pada rangkaian katanya. Misalnya saja dalam Puisi yang berjudul “Yang Fana adalah Waktu”. Saya yakin, banyak diantara pembaca juga jatuh cinta dengan puisi Eyang yang satu ini.
Ada beberapa puisi lainnya yang juga saya sukai, salah satunya berjudul “Hatiku Selembar Daun”.
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aaku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini
senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kusapu tamanmu setiap pagi.
Entah mengapa, rasanya seperti saya jatuh cinta pada keabadian, sebagaimana Eyang mengabadikan keabadian dalam puisi-puisinya. Puisi lain yang juga saya sukai berjudul “Benih”. Baru kali ini saya membaca puisi Eyang yang bertema pewayangan Ramayana.
Ngomong-ngomong, buku Puisi yang berjudul Perahu Kertas ini dapat diakses di Aplikasi Ipusnas. Salah satu buku yang sangat laris dibaca, karena saya harus menunggu antrean beberapa hari untuk dapat mengaksesnya.


