Pajak Karbon: Agenda Pemulihan Bumi atau Pemulihan Ekonomi?

 

Ilustrasi oleh Canva

If you really think that the environment is less important than the economy, try holding your breath while you count your money

Guy R. McPherson

(Ilmuwan dan profesor di University of Arizona, Amerika Serikat)

Meskipun hanya sesaat, kebijakan pembatasan kegiatan akibat COVID-19 dinilai berhasil menurunkan emisi karbon global sebesar 2,4 miliar ton pada tahun 2020 atau sekitar 7 persen lebih rendah dari emisi karbon pada tahun 2019. Penurunan tersebut telah memecahkan rekor penurunan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan penurunan emisi selama sebagian besar abad terakhir. Namun, setelah kebijakan tersebut berakhir, angka emisi karbon kembali mengalami peningkatan sehingga membuat masyarakat internasional kembali berambisi untuk mengatasi permasalahan peningkatan emisi karbon yang berdampak negatif pada perubahan iklim.

Ambisi dalam mengatasi permasalahan terkait dampak negatif perubahan iklim yang disebabkan oleh peningkatan emisi karbon tersebut tampak dari agenda kolektif Group of Twenty (G20) yang pada tahun 2022 ini salah satu isu prioritasnya berfokus pada transisi energi berkelanjutan (sustainable energy transition). Pembahasan mengenai isu tersebut diharapkan mampu mewujudkan percepatan transisi energi global yang lebih bersih, sekaligus memperkuat sistem energi global yang berkelanjutan dan berkeadilan. Selain berfokus pada isu tersebut, dua isu prioritas lain yang juga akan dibahas adalah sistem kesehatan dunia (global health architecture) dan transformasi ekonomi dan digital (digital transformation).

Note:

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis opini yang bertema “G20: Berbagi, Berkolaborasi, Bersama“, yang diadakan oleh Bisnis Indonesia ID.


Baca selengkapnya di sini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *