Nyanyian Akar Rumput: Risalah Hati Aktivis yang Hilang (atau Dihilangkan)

My rating: 4 of 5 stars



Selama ini saya hanya menikmati puisi-puisi bertema cinta, sehingga membaca puisi bertema sosial dan perjuangan dalam buku ini adalah pengalaman pertama bagi saya. Beberapa penggal bait puisinya terasa tidak lagi asing terdengar sebab kerap dijadikan slogan oleh para mahasiswa pada saat unjuk rasa, misalnya kalimat hanya ada satu kata: lawan! dalam puisi yang berjudul Peringatan. Saya cukup larut dalam penderitaan yang coba digambarkan oleh Wiji Thukul. Membaca puisi-puisinya membuat saya kesal, marah, dan turut berduka atas apa yang ia dan mereka alami pada masa orde baru. Betapa saya turut dihantui kemarahan dan semangat perjuangannya setelah menyelesaikan puisi ini.

Buku ini terdiri dari 7 bagian dengan total 171 puisi. Bagian yang menjadi favorit saya adalah Yang Tersisih dan Pada Jenderal Marah-marah. Banyak puisi yang saya sukai, beberapa diantaranya adalah Lumut; Tanah; Bunga dan Tembok; Peringatan; Tanpa Judul; Buron; Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa; Hukum; Penyair.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *