My rating: 3 of 5 stars
Sebelum membaca buku ini, saya sudah keep in mind bahwa buku ini memuat dua versi cerita Nyai Dasima. Cerita Nyai Dasima yang pertama ditulis oleh S.M. Ardan, sedangkan cerita Nyai Dasima yang kedua ditulis oleh G. Francis yang merupakan pengarang aslinya. Sebagaimana J.J. Rizal dalam pengantar buku ini, saya pun tidak dapat mengelak untuk tidak membandingkan kedua versi cerita tersebut.
Setelah membaca dua versi Nyai Dasima, saya berkesimpulan bahwa meskipun plot yang diceritakan hampir mirip dan akhir cerita yang sama, tetapi apa yang dibawakan oleh S.M. Ardan dan G. Francis sungguh bertolak belakang, khususnya dalam hal penggambaran beberapa tokoh seperti Samiun, Wak Lihun, serta Tuan W. Jika Samiun dan Wak Lihun digambarkan sebagai tokoh yang protagonis yang agamis dalam versi S.M. Ardan, tapi di dalam versi G. Francis, dua orang tersebut digambarkan sebagai orang yang antagonis, serakah, dan meskipun agamis tapi mempercayai ilmu guna-guna, yang mana ini syirik dan bertolak belakang.
Berangkat dari situ, saya berasumsi bahwa G. Francis menulis ini dilatarbelakangi oleh sikap sentimennya terhadap kaum muslim Hindia Belanda. Sedangkan versi yang ditulis oleh S.M. Ardan berisi tentang cerita untuk meluruskan citra baik Islam.


