Movie Series: Unbelievable – Kisah Dua Detektif Hebat dan Korban Kekerasan Seksual

Cause even with good people, even with people that you can kinda trust, if the truth is inconvenient, and if the truth doesn’t, like, fit, they don’t believe it. 

– Marie Adler –
Unbelievable adalah mini seri crime-drama Amerika yang terinspirasi dari kisah nyata artikel berita tahun 2015 yang bertajuk “An Unbelievable Story of Rape” yang ditulis oleh T. Christian Miller and Ken Armstrong. Di mini serinya, film ini dibintangi oleh Toni Collette sebagai Grace Rasmussen, detektif di Kepolisian Westminster, Colorado; Merritt Wever sebagai Karen Duvall, detektif yang bekerja di Kepolisian Golden, Colorado; dan Kaitlyn Dever sebagai Marie Adler, korban penyerangan seksual (sexual assault). Mini seri ini terdiri dari delapan episode dan dapat dinikmati di media streaming movie kesayangan kita, Netflix.

Series ini berkisah tentang kasus pemerkosaan berantai yang terjadi di dua tempat yang berbeda, yakni Washington dan Colorado pada tahun 2018-2011. Pada intinya, series ini terbagi dalam dua cerita yang saling terhubung, tapi tidak ada interaksi langsung diantara keduanya, yakni dari sudut pandang Marie dan sudut pandang Detektif Rasmussen dan Detektif Duvall.

Dari sudut pandang Marie, seorang perempuan berusia 18 tahun, melaporkan dirinya kepada pihak kepolisian Lynnwood, Washington karena baru saja menjadi korban penyerangan seksual oleh orang tak dikenal. Marie menceritakan kepada polisi bahwa ia diikat, disumpal, diperkosa dan diancam pada saat kejadian itu berlangsung. Anehnya, si pelaku cukup cerdik untuk tidak meninggalkan jejak tindak pidana, sehingga pihak kepolisian kesulitan untuk mengidentifikasi dan mencari barang bukti pada kasus ini.

Setelah beberapa kali polisi melakukan penyelidikan dan konfrontasi kepada Marie, mereka mendapatkan suatu kesimpulan bahwa Marie tidak konsisten dalam memberikan keterangan. Sampai pada akhirnya, Marie dianggap mengarang suatu kebohongan atas insiden itu. Atas kejadian tersebut, pada bulan Maret 2009, Marie didakwa atas tindak pidana memberikan keterangan palsu dan diharuskan menjalani masa percobaan dan membayar denda senilai US$ 500. Marie benar-benar kehilangan segalanya, mulai dari teman-teman, uang, pekerjaan, hingga harus menerima perundungan dari publik karena namanya disebut-sebut oleh media.

Di sudut pandang lain, Di Golden, Colorado, selama Januari 2011, Detektif Duvall menangani kasus kekerasan seksual yang dialami Amber, perempuan yang diperkosa seraya ditodong dengan senjata selama kurang lebih empat jam. Duvall juga sempat mengalami kebuntuan dalam menangani kasus  tersebut karena kesulitan dalam mengidentifikasi dan mendapatkan barang bukti. Akhirnya Duvall menceritakan hal tersebut kepada suaminya, seorang petinggi di kepolisian di Westminster. Atas saran dari suaminya, Duvall menemui Detektif Rasmussen dengan harapan akan mendapatkan pencerahan. Menurut keterangan suaminya, Detektif Rasmussen menangani kasus kekerasan seksual terhadap dua wanita berusia 59 dan 65 yang mengalami penyerangan seksual dengan pola yang sama.

Setelah melewati beberapa kejadian, Detektif Rasmussen dan Detektif Duvall mendapatkan kesimpulan bahwa ternyata kasus perkosaan di beberapa daerah yang berbeda-beda tersebut memiliki pola yang sama dan kemungkinan besar saling berkaitan, bahkan oleh pelaku yang sama. Oleh sebab itu, kedua detektif tangguh tersebut memutuskan untuk bekerja sama dalam memecahkan kasus kekerasan seksual berantai ini.

Mini seri ini cukup intens dan relatable dengan isu yang belakangan ini gencar dikampanyekan kaum feminis. Mungkin karena terinspirasi dari kisah nyata, series ini sukup detail dalam menggambarkan hal-hal dan perjuangan penyintas kekerasan seksual. Yang menarik, meskipun bercerita tentang kekerasan seksual, series ini tidak mengekspos konten seksual secara berlebihan, sehingga cukup aman untuk ditonton. Memang series ini terkesan feminis banget, tapi menurut saya pesan yang ingin disampaikan tidak cukup sampai disitu saja. Dilihat dari sisi kemanusiaan, jangan hanya karena ingin menegakkan hukum, aparat justru menafikan sisi kemanusiaan yang bahkan seharusnya hukum ada untuk melindungi hak asasi manusia itu sendiri. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *