Movie Series ‘Don’t F*ck with Cats’: Jangan Main-main dengan Cat Lovers

Kira-kira, gimana perasaan kalian kalau kucing – hewan kesayangan sejuta umat, yang hampir semua orang suka karena imut, lucu, dan gemesin – justru dibunuh dengan cara yang sadis. Sebagaimana judulnya, Don’t F*ck with Cats: Hunting an Internet Killer merupakan serial dokumenter yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang lelaki yang menggegerkan dunia maya setelah mengunggah video aksi pembunuhan kucing hingga manusia. Ulah lelaki tersebut, meresahkan dunia maya dan akhirnya mendorong warganet membuat gerakan bawah tanah dan menjadi “detektif amatiran” untuk menemukan identitas asli lelaki dalam video tersebut.
Film ini ditulis sekaligus disutradari oleh Mark Lewis dan dirilis pada 18 Desember 2019. Terdiri dari 3 babak yang terangkum dalam tiap episode, yakni berjudul “Cat and Mouse“; “Killing for Clicks“; dan “Closing the Net“. Pada tahun 2020, film ini menerima beberapa penghargaan, diantaranya termasuk dalam nominasi British Academy Television Awards kategori Best Factual Series or Strand; nominasi British Academy Television Craft Awards kategori Best Director: Factual dan menang di kategori Best Editing: Factual.

Adegan diawali dengan narasi Deanna Thompson a.k.a Baudi Moovan yang menceritakan kesedihan dan keresahannya setelah menonton video viral di Facebook berjudul 1 Boy 2 Kittens. Video yang viral tersebut memperlihatkan seorang laki-laki yang memainkan 2 kucing kecil sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik dan menyedot habis udara di dalam kantong tersebut menggunakan vacuum cleaner sampai kucing-kucing tersebut kehabisan nafas. Selain Deanna Thompson, ada juga narator lain bernama John Green. Keduanya memutuskan untuk membuat grup Facebook yang berisi simpatisan dan sukarelawan untuk menemukan pelaku sekaligus mengumpulkan bukti-bukti yang ada. Meskipun demikian, saya kira film ini tetap aman ditonton oleh pecinta kucing karena tidak menampilkan video proses pembunuhan kucing tersebut secara vulgar karena dinarasikan oleh narator.

Yang menarik dari serial ini adalah plotnya. Dari yang membunuh anak kucing sampai membunuh manusia. Bagaimana penonton diajak untuk memecahkan misteri dengan memerhatikan detail-detail kecil dalam setiap detik video, serta analisa yang mendalam terhadap berbagai temuan. Seperti melihat tayangan jurnalistik, penonton disuguhkan cerita dari dua sisi, yakni dari sisi warganet yang menjadi detektif amatiran dan dari sisi ibu si pelaku. Bagaimana dua pernyataan ini saling bertolak belakang, karena yang menjadi twist-nya adalah pelaku yang sudah membangun narasi bahwa dia melakukan tindak kejahatan karena dibawah tekanan dan ancaman orang lain. Sebuah ide yang brilian untuk lari dari tanggung jawab.

Terlepas dari itu semua, jika yang diinginkan oleh pelaku adalah meraih popularitas yang anti-mainstream, maka apakah warganet yang menjadi detektif amatiran tersebut turut serta dalam mewujudkan keinginan pelaku? Hm…. Menarik …..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *