My rating: 5 of 5 stars
Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis, mendengar judulnya saja, saya sudah penasaran, apa sebab laki-laki itu bisa menangis dan tidak berhenti? Pertanyaan saya terjawab di cerita yang berjudul “Kambing”. Sungguh, dalam benak saya sudah mengira laki-laki ini menangis karena merasa bersalah dan mohon ampun atas dosa-dosanya, tapi saya tidak mengira bahwa si Kambing itulah yang menjadi penyebabnya. Salah satu cerita yang menurut saya menohok dan masih relevan di kehidupan sekarang ini.
Membaca buku Cak Rusdi pada musim mendekati perayaan natal adalah keputusan yang tepat, menurut saya. Beberapa tahun belakangan ini, hampir setiap menjelang akhir desember, sebagian besar umat muslim ribut mengenai masalah yang itu-itu saja dan berdasarkan argumen yang begitu-begitu saja. Apalagi kalau bukan mengenai hukum mengucapkan “selamat natal” untuk saudara kita yang tengah berbahagia. Saya tidak perduli itu dan saya tetap mengucapkannya kepada teman-teman saya yang merayakan. Saya sepakat dengan Cak Rusdi yang dalam buku ini mengatakan “urusan akidah adalah urusan masing-masing individu, tapi urusan berhubungan baik dengan sesama manusia adalah urusan bersama”. Harus saya akui, saya jatuh cinta dan penasaran untuk membaca buku ini sejak saya menemukan quotes tersebut di internet.
Benar saja, Cak Rusdi menyajikan cerita-cerita islami penyejuk hati yang tidak jarang membuat saya mengernyitkan dahi. Saya heran, bagaimana bisa orang melewatkan buku yang demikian bagus untuk asupan kecerdasan spiritual. Dalam bukunya yang tidak terlalu tebal ini, Cak Rusdi berhasil menyampaikan 23 cerita pendek dan tidak bersambung dengan bahasa yang ringan tanpa ada kesan menggurui. Bahkan saya menjadi penasaran untuk membaca buku-buku dan kitab-kitab tafsir yang sering kali disebut dan dijadikan rujukan Cak Rusdi dalam buku ini, seperti Sirah Rasul Allah, Sejarah Umat Islam, Mystical Dimension of Islam, Fi Dzilalil Quran, Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik dan lain-lain.
Bahwa selain menanamkan cinta terhadap agama Islam, melalui cerita yang ia tuturkan di dalam buku ini, Cak Rusdi juga menyelipkan pesan moral untuk berbuat baik kepada sesama makhluk dan toleransi kepada umat agama lain, karena memang tidak ada alasan bagi kita untuk membenci orang lain yang memiliki latar belakang identitas yang berbeda. Saya yakin, jika banyak orang yang mau meluangkan waktunya untuk duduk, membaca, dan memahami tulisan Cak Rusdi ini, niscaya kebencian yang selama ini ditanamkan lewat pengkotak-kotakan manusia menjadi golongan-golongan tertentu akan aus dengan sendirinya.



This comment has been removed by the author.