Jejak Langkah: Titik Balik Perlawanan Sang Pemula

Jejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 5 of 5 stars

Sebagaimana yang tertulis dalam sampul belakangnya, Jejak Langkah merupakan buku ketiga dari rangkaian tetralogi pulau buru yang menceritakan Minke pada fase pengorganisasian perlawanan. Buku ketiga ini memiliki halaman terpanjang di antara empat buku lainnya. Memang tidak mudah mendeskripsikan buku ini dalam satu kalimat, tapi secara garis besar, Jejak Langkah lebih fokus pada usaha Minke dalam memobilisasi massa untuk melawan kekuasaan Hindia yang sudah mengakar dalam kehidupan politik dan sosial Hindia. Jalan yang ditempuhnya bukan perlawanan dengan senjata tajam sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulunya, melainkan melalui organisasi yang terstruktur (Sarekat Prijaji & Sjarikat Dagang Islam) dan jurnalistik yang memproduksi bacaan yang “dekat”dengan bangsa Pribumi (Medan Prijaji).

Menurut pribadi saya, buku ini menggambarkan babak baru dalam kehidupan Minke yang ditandai dengan kepindahan Minke dari Surabaya ke Batavia. Oleh karena merupakan babak baru, pace cerita kembali menurun dan saya merasa cukup bosan sampai di Bab 4 karena terlalu panjang untuk menceritakan pertemuan Minke dengan Ang San Mei, tapi terlalu pendek untuk menceritakan kisah cinta mereka. Meskipun demikian, kebosanan tersebut terbayarkan oleh kepiawaian Pram dalam meramu fiksi dengan menyelipkan fakta-fakta sejarah dalam menarasikan perkembangan karakter seorang Minke.

Berbeda dengan dua buku sebelunya, Jejak Langkah tidak menguras air mata, melainkan lebih menguras otak yang mendorong pembaca untuk selalu berpikir dalam menghabiskan setiap babnya karena banyak sekali pengetahuan umum dan fakta sejarah yang dinarasikan di sini. Jangan berharap menemukan kisah cinta yang romantis, pilu, dan tragis sebagaimana dalam Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karena pembaca mungkin tidak akan banyak menemukannya. Memang Minke akan dikisahkan bertemu dengan dua perempuan yang memengaruhi hidupnya, akan tetapi mereka adalah perempuan-perempuan yang membawa warna lain bagi Minke, yang jauh berbeda daripada Annelies.

Serupa tapi tak sama, sebagaimana dalam bab penghabisan pada Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Pram berhasil membuat saya getir, namun uniknya kegetiran yang saya rasakan pada bab penghabisan di Jejak Langkah tidak membuat saya menangis, justru merasa kosong setelah ikut merasakan kegigihan Minke dalam melawan dan bertahan atas sesuatu yang lebih kuasa dan perkasa daripada dirinya.

View all my reviews

Dapatkan buku “Jejak Langkah” hanya di:

TokopediaGramedia


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *