Menyelisik Peran Ibu dalam Upaya Bina Damai bersama Knowledge Hub (K-Hub)
Menjadi ibu ternyata harus memiliki kemauan untuk terus belajar. Aku menyadari hal ini sejak mengandung anak pertamaku hingga ia sekarang menginjak usia dua tahun. Kebahagiaan dan kekhawatiran terhadap masa depan adalah sepaket perasaan yang terlahir bersamaan dengan kelahiran bayiku. Aku sangat menanti kehadirannya di dunia, akan tetapi apakah aku sanggup menjadi orang tua yang layak di dunia yang rasanya semakin menjauhi kata layak untuk ditinggali ini?
Bagaimana tidak, kita kerap disuguhi berbagai berita menakutkan yang membuat bertanya-tanya “apakah kejadian itu nyata?”. Salah satu berita yang membuat waspada adalah mengenai kasus terorisme yang melibatkan perempuan dan anak di bawah umur. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan bahwa saat ini ada lebih dari 60 perempuan dan 20 anak di bawah umur terlibat kasus terorisme. Sementara itu, pada tahun 2022 terdapat 24 anak di bawah umur yang mendapatkan sanksi pidana karena hal yang sama. Empat di antaranya merupakan pelaku pengeboman di Surabaya. Bahkan ada dua anak lainnya menjadi teroris asing di Suriah tanpa pengawasan orang tua. Hal ini sontak membuatku berpikir bahwa tantangan orang tua dalam mengasuh anak di masa kini semakin kompleks dan kita harus siap untuk menghadapinya.
Mengenal K-Hub dan Peranannya dalam Upaya Bina Damai
Kembali mencari tahu bagaimana cara untuk mencegah perilaku yang mengarah pada terorisme sejak dini, aku menemukan Ensiklopedia Modul Pendidikan Perdamaian di Indonesia yang menarik untuk dipelajari, yakni sebuah outlook yang disusun dan dihimpun oleh Knowledge Hub (KHUB). KHUB sendiri merupakan sebuah platform teknologi untuk memperkuat kolaborasi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam pencegahan ekstremisme kekerasan di Indonesia.
Baru-baru ini KHUB meluncurkan K-HUB Preventing and Countering Violent Extremism (PCVE) Outlook #2. Ini merupakan platform yang menyediakan sekaligus memetakan beragam modul pelatihan dan sosialisasi pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme (Preventing Violent Extremism – PVE). Modul-modul yang terkompilasi tersebut telah melewati proses kurasi yang sesuai dengan standar Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE).
Sebagai platform digital yang memetakan modul pencegahan ekstremisme kekerasan di Indonesia, K-Hub PCVE Outlook #2 tidak hanya informatif, tetapi juga kreatif dan interaktif sehingga menarik perhatian pengunjung untuk menelusuri setiap sudut konten yang ditampilkan. Di samping penggunaan animasi yang mengundang rasa penasaran, K-Hub PCVE Outlook #2 mampu menyajikan informasi secara ringkas melalui struktur konten yang mudah dimengerti. Secara spesifik, outlook edisi kedua ini membedah ragam modul keluaran OMS, mulai dengan menjabarkan temuan kunci dan rekomendasi sebagai bahan untuk pengembangan modul selanjutnya, hingga menyediakan kolom interaksi sebagai ruang komunikasi untuk saling bertukar informasi di lingkup pendidikan.
Relevansi Konten K-Hub PCVE Outlook #2 dalam Upaya Mewujudkan Bina Damai
Bina damai atau peacebuilding sejatinya adalah konsep yang bukan baru lagi. Berdasarkan lini masa, konsep ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1992 oleh mantan Sekretaris Jendral PBB, Boutros Boutros-Ghali. Menurutnya, bina damai merupakan upaya yang menyeluruh untuk mengidentifikasi dan mendukung struktur yang mengukuhkan perdamaian untuk mencegah konflik yang berulang.
Pada umumnya, aktor-aktor yang berperan dan terlibat dalam penataan upaya bina damai adalah masyarakat sipil, pemerintah, dan OMS; termasuk juga organisasi internasional yang memfasilitasi maupun mendukung upaya bina damai.
Modul-modul yang tersedia pada K-Hub PCVE Outlook kedua ini cukup relevan dengan kebutuhan masyarakat sipil dan aktor lainnya. Selain menyasar pada masyarakat umum, modul-modul ini juga diperuntukkan bagi pendidik, pelajar, dan tokoh agama/santri. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan formal menjadi arus utama dalam upaya internalisasi nilai-nilai bina damai.
Kelebihan dan Kekurangan KHUB PCVE Oulook #2
Selain keseriusannya dalam menyusun outlook kedua, satu hal yang harus diapresiasi dari platform ini adalah kegigihan KHUB dalam mengategorikan Modul PVE, baik itu berdasarkan sasaran penerima manfaat maupun dalam bentuk diagram. Di dalam kategorisasi modul berdasarkan manfaat, terdapat empat kategori modul, yakni untuk pendidik, pelajar, tokoh agama/santri, dan umum. Apabila mengklik salah satu ikon akan muncul sebuah pop up yang memungkinkan pengunjung untuk menyesuaikan pencarian modul sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai seorang ibu rumah tangga yang baru memiliki seorang anak, awalnya aku cukup kebingungan untuk memilih modul mana yang harus aku baca terlebih dahulu. Namun ternyata, outlook edisi kedua ini menampilkan kategori modul PVE dalam bentuk diagram yang sederhana. Hal tersebut lebih membantuku karena memberikan gambaran umum atas substansi suatu modul. Setelah puas berselancar, akhirnya aku mengunduh satu modul yang berjudul “Modul Menghargai Perbedaan – Pendidikan Toleransi Untuk Anak” yang disusun oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia.
Aku tertarik untuk mengunduh modul tersebut setelah membaca analisis konten yang tersedia. Berdasarkan keterangannya, modul ini berisi topik-topik mengenai keberagaman dan bagaimana merespons keberagaman bagi anak-anak. Terlebih, topik-topik tersebut dikenalkan melalui bahasa yang sederhana dan ilustrasi yang menarik agar anak-anak dapat memahami dan mempraktikkan konsep toleransi dan keberagaman dengan mudah. Meskipun ditujukan untuk anak usia sekolah dasar, menurutku ini adalah modul yang paling sesuai dan paling dekat dengan milestone anakku. Dengan kemudahan akses ini, aku dapat mempelajari modul tersebut terlebih dahulu sebelum mengajarkannya langsung kepada anak saat ia sudah siap kelak.
Sebagai seorang yang termasuk dalam kategori masyarakat umum, aku mendapatkan kemudahan untuk mengakses informasi mengenai modul-modul yang ditujukan untuk aktor lain. Pada outlook kedua ini, KHUB melalui kolom analisis kontennya cukup memberikan informasi yang membantu pengunjung untuk mendapatkan gambaran umum mengenai konten modul yang tersedia. Namun sayangnya, tidak semua modul berbentuk dokumen digital dan tidak semuanya dapat diakses melalui laman institusi penyusun modul.
Merangkul Ibu untuk Menjadi Aktor Pertama dalam Memperkenalkan Konsep Toleransi dan Perdamaian
Seorang ibu tidak hanya menjadi sekolah pertama untuk anaknya, melainkan juga memegang peranan sentral dalam pilar pembangunan peradaban. Di genggamannyalah tangan-tangan mungil itu bertumbuh dan berlindung dari segala yang apa yang ada di bumi. Oleh karena peranan penting itulah, seorang ibu haruslah menjadi pembelajar ulung.
Tidak hanya menggantungkan proses pada lini pendidikan formal, sudah saatnya para ibu juga terpapar dan turut serta dalam upaya bina damai yang selama ini digalakkan dalam berbagai lini. Ini bertujuan agar pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme dapat mengakar sedini mungkin. Dalam konteks penyediaan fasilitas yang meliputi digitalisasi modul, bahan ajar kontekstual yang secara spesifik ditujukan untuk ibu atau orang tua, serta kemudahan untuk mengakses modul adalah jawaban dari tantangan untuk mencegah perilaku yang mengarah pada terorisme dan mewujudkan perdamaian.
Yuk, para ibu ambil peran dalam mewujudkan dunia yang damai dengan penuh cinta kasih kepada sesama. Jangan ragu untuk belajar dan memulai dari diri sendiri. Mari kita mengasuh dan mengajarkan praktik baik kepada anak yang sesuai dengan RAN PE dengan mengakses berbagai modul dari KHUB melalui tombol berikut.
- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, BNPT: WNI Terasosiasi FTF dan Keterlibatan Perempuan dan Anak dalam Terorisme Jadi Tantangan Pemerintahan Baru, diakses dari https://www.bnpt.go.id/bnpt-wni-terasosiasi-ftf-dan-keterlibatan-perempuan-dan-anak-dalam-terorisme-jadi-tantangan-pemerintahan-baru pada 12 Juni 2024.
- Knowledge Hub, K-Hub PCVE Outlook #2: Ensiklopedia Modul Pendidikan Perdamaian di Indonesia, diakses dari https://outlook.khub.id/id/ensiklopediamodulpve pada 10 Juni 2024.
- Peacebuilding and Organized Crime, The Cases of Kosovo and Liberia, 1 Agustus 2007, halaman 3-7 diakses dari https://www.jstor.org/stable/resrep11100.5 pada 12 Juni 2024.
- Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, Menghargai Perbedaan, Pendidikan Toleransi untuk Anak, diakses dari https://psikindonesia.org/menghargai-perbedaan-pendidikan-toleransi-untuk-anak/ pada 11 Juni 2024.
