Gagal Menjadi Manusia: Kritik terhadap Fasad Idealisme Kosong Masyarakat

My rating: 5 of 5 stars

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak seorangpun dari kita, manusia, memiliki kehidupan yang sempurna seutuhnya. Bahkan, seseorang yang tampak ceria dan memiliki segalanya sekalipun bisa jadi adalah orang yang paling sering merasa merana ketika sendirian. Setidaknya begitulah yang saya rasakan setelah selesai membaca novel karya Osamu Dazai yang berjudul Ningen Shikkaku (人間失格) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Gagal Menjadi Manusia.

Menceritakan kisah pedih Ōba Yozo, seorang pemuda yang susah payah menjalani kehidupan bermasyarakat karena tidak mampu mengungkapkan jati dirinya kepada orang lain. Terjebak di antara benturan tradisi keluarga aristokrat Jepang utara dengan pengaruh ide-ide Barat, semakin mendorongnya untuk menjalani hidup dengan perasaan empty joy facade (fasad kesenangan kosong). Hal itulah yang membuatnya merasa harus selalu berpura-pura menjadi ‘manusia lucu yang senang melawak’ agar tidak terlihat berbeda dengan masyarakat kebanyakan.

Secara garis besar, novel ini terdiri dari tiga bab, yang menceritakan kehidupan Ōba Yozo sejak masa kecilnya hingga berumur dua puluhan. Isinya nampak seperti jurnal atau buku catatan yang ditulis sendiri oleh Ōba Yozo. Bahkan sebagian orang percaya bahwa Ōba Yozo merupakan Osamu Dazai sendiri, karena ia bunuh diri tak lama setelah terbitnya bagian terakhir dari novel tersebut.

Menurut saya pribadi, meskipun tidak tebal, novel ini bukanlah bacaan yang ringan sehingga tidak cocok dihabiskan dalam sekali duduk. Harus saya akui bahwa novel ini menggunakan plot yang hanya berisi penggalan peristiwa demi peristiwa yang terjadi sehingga membuat alurnya menjadi sedikit tidak jelas. Apalagi banyak triggering factors yang dapat memicu perasaan tidak nyaman bagi pembaca. Meskipun demikian, penulis berhasil menggambarkan situasi suram dengan cara yang tidak dipaksakan sehingga membuat buku ini terkesan begitu istimewa. Terutama premis yang diangkat tentang kesehatan mental, merupakan hal yang sangat manusiawi dialami oleh setiap individu. Dengan kata lain, novel ini mengajak pembaca untuk menyelami lebih jauh sebelum menghakimi seseorang yang dilabeli ‘tidak sesuai dengan keinginan masyarakat’. Lebih jauh lagi, novel ini sebenarnya berisi kritik terhadap masyarakat yang secara nyata telah mendegradasi eksistensi individu hanya agar dapat diterima dan menjadi bagian dari mereka.


View all my reviews

Dapatkan buku “Gagal Menjadi Manusia” hanya di:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *