Film “Mirage”: Badai Langka yang Menguak Kejahatan Masa Lampau


Mirage atau Durante la Tormenta merupakan film Sci-Fi thriller crime drama Spanyol yang digarap oleh Sutradara bernama Oriol Paulo dan dibintangi oleh Adriana Ugarte sebagai Vera Roy, Chino Darín sebagai Inspector Leyra, serta Álvaro Morte sebagai David Ortiz. Film ini pertama kali dirilis pada tahun 2018 dan sudah dapat dinikmati di Netflix sejak 22 Maret 2019. 

Premis yang diangkat film ini cukup menarik sehingga film ini cocok untuk dimasukkan ke dalam list tontonan untuk menghabiskan akhir pekan. Jika boleh jujur, film ini tidak cukup saya tonton sekali saja, selain karena genrenya yang cukup kompleks, plot dramanya juga cukup membuat penasaran, terutama hal-hal yang terlewatkan pada saat pertama nonton, seperti detail-detail kecil yang menjadi clue pentingnya. 

Cerita dimulai dari adanya badai petir selama 72 jam yang ternyata memicu terbukanya wormhole atau lubang cacing yang memungkinkan terhubungnya ruang yang sama, dengan waktu dan universe yang berbeda antara Vera di tahun 2014 dengan seorang bocah bernama Nico di tahun 1989. Dari perspektif Nico, Vera adalah perempuan dari masa depan yang dapat berkomunikasi dengannya melalui saluran TV pada saat terjadinya badai petir.

Dari penuturan tetangganya, Vera mengetahui bahwa dulunya Nico dan ibunya tinggal di rumah yang dia tempati sekarang. Namun, keduanya tak lagi menempati rumah tersebut sejak adanya insiden pembunuhan yang tak jauh dari rumahnya dan ternyata insiden tersebut ada hubungannya dengan penyebab meninggalnya Nico. 

Sebelum meninggal, Nico sempat menyusup ke rumah tetangganya karena mendengar keributan pasangan suami istri, Ángel Prieto-Hilda Weiss bertengkar. Sampai di rumah tetangganya tersebut, Nico justru mendapati Hilda yang tergeletak penuh darah dan tidak bernyawa, disusul dengan munculnya Prieto yang menuruni anak tangga dengan menggenggam sebilah pisau yang penuh darah. Oleh karena Nico kaget dan panik dengan kemunculan Prieto yang secara tiba-tiba, Nico segera lari ke luar rumah dan tak menyadari bahwa ada mobil yang melaju kencang, sehingga dia tertabrak dan meninggal dunia.

Demi mencegah kejadian yang sama terulang kembali, Vera memperingatkan Nico agar tidak keluar rumah untuk melihat kekacauan yang disebabkan oleh tetangga sebelah. Vera meyakinkan Nico untuk tetap tinggal di kamar dengan menunjukkan headline yang mewartakan Nico meninggal dunia akibat tertabrak Mobil. Namun siapa sangka, tindakan Vera tersebut justru menyingkap rahasia kematian seseorang dan melahirkan akibat baru yang memengaruhi masa depan yang dijalani oleh Vera sendiri. 

Dengan menggabungkan konsep butterfly effect paradox, thriller, dan crime drama, film ini cukup membuat terkesima karena konsep-konsep tersebut secara eksekusi cukup berat untuk diterjemahkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. 

Sebelum mengulas lebih jauh tentang keunikan film ini, perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan butterfly effect paradox. Secara sederhana, butterfly effect adalah suatu teori yang menyatakan bahwa satu perubahan kecil sekarang dapat menghasilkan segala macam perubahan besar dan sering kali tak terduga nantinya. Istilah butterfly effect dicetuskan oleh Edward Lorenz, ahli meteorologi pada tahun 1960-an yang menemukan bahwa perubahan skala ke titik awal model cuaca komputernya seperti membentuk sayap kupu-kupu yang indah, namun menghasilkan apa saja, mulai dari langit cerah hingga badai yang dahsyat tanpa cara untuk memprediksi apa yang menjadi hasilnya.

Source: https://www.aps.org/publications/apsnews/200406/images/butterfly.jpg

Sepanjang film, tidak ada satupun penjelasan atau pertanda bahwa Vera sedang berada di universe mana. Sampai pada akhirnya saya berada pada suatu kesimpulan bahwa film ini mengandung tiga babak yang menceritakan tiga universe yang berbeda. Namun saya tidak mengetahui mana universe yang realita dan mana yang pararel. Saya mencoba membuktikan bahwa ketiga universe tersebut dapat dibedakan dengan cara menonton ulang dan lebih memerhatikan detail-detail kecilnya, misalnya posisi tato Vera ada di tangan kanan atau di tangan kiri, posisi boneka baleria di kotak musik, sampai dengan posisi rumah. Sebab, menurut pengalaman, pada umumnya dunia pararel ditandai dengan adanya posisi benda yang terbalik, sebagai pertanda bahwa dunia pararel adalah kebalikan dari relaita. Namun hasilnya Nihil, hehe. Sepertinya memang tidak ada pertanda yang membedakan universe kecuali jam yang membangunkan Vera dari mimpi setelah berada di suatu universe. Apabila diperjelas, tiga universe yang saya maksud sebagai berikut:

  1. Universe dimana Nico meninggal, Prieto bunuh diri setelah mengakui bahwa ia akan mengubur istrinya di rumah jagalnya, dan Vera menikah dengan David mempunyai anak bernama Gloria dalam rentang waktu 9-11 November 1989 dan 11 November 2014;
  2. Universe dimana Nico hidup, Prieto hidup dan menikah dengan Clara Medina, Vera menikah dengan Inspektur Leyra (Nico dewasa) dan tidak mempunyai anak dalam rentang waktu 9-12 November 1989, yang mana film ini lebih banyak menceritakan universe ini; dan
  3. Universe dimana Nico hidup, tapi tidak mengenal Vera, Prieto hidup dan menikah dengan Clara Medina dalam rentang waktu 13 November 2014.
Meskipun film ini cukup menarik, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan saya, antara lain, tidak terdapat penjelasan mengapa pada babak kedua, Vera tiba-tiba saja terbangun di universe kedua tepat di rumah sakit setelah mencegah Nico agar tidak keluar rumah untuk mencari tahu penyebab keributan tetangga sebelah; pada saat menggenggam tangan David, mengapa Vera tidak mempunyai ingatan apa pun, padahal diceritakan bahwa Vera sempat terlibat dalam proses pengoperasian David; mengapa dan bagaimana Inspektur Leyra tahu bahwa David sedang selingkuh di hotel dengan Monica? Hmmm… Entah saya yang skip atau memang tidak ada penjelasannya. Silakan tinggalkan komentar ya apabila tahu jawaban pertanyaan saya. Hihi.

 

Sumber:
[1] https://fs.blog/2017/08/the-butterfly-effect/
[2] https://www.americanscientist.org/article/understanding-the-butterfly-effect
[3] https://www.aps.org/publications/apsnews/200406/butterfly-effect.cfm

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *