Egosentris: Tidak Perlu Merasa Diri Paling Istimewa karena Kamu Bukan Pusat Semesta

My rating: 4 of 5 stars

 Judging books by their covers and titles is a habit I can’t break, maka saya pun melakukan hal itu terhadap buku ini. Melihat judulnya sekilas, Ego.sen.tris /égosèntris/ berarti menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri). Sampulnya sendiri seolah-olah mempersonifikasi bahwa egoisme tidak jauh berbeda dengan keinginan diri untuk menjadi pusat suatu galaksi. Saya suka hal tersebut meskipun sebatas asumsi yang tak terkonfirmasi.


Saya membaca buku ini atas rekomendasi dari salah satu teman. Awalnya, saya ragu untuk membacanya karena saya pikir ceritanya beraliran teenlit yang berisi cerita muda-mudi dengan permasalahan cinta klasik. Saya pun membuka bagian dalam bukunya. Oleh karena buku ini tidak menyediakan daftar isi, maka mata dan jemari saya langsung tertuju pada halaman yang berwarna gelap. Halaman tersebut ternyata berisi sebuah sajak yang mendorong saya mejelajahi halaman demi halaman lainnya yang juga berwarna gelap. Saya jatuh cinta dengan sajak Syahid Muhammad, terutama yang berjudul “FANA”. Rasanya ia menuliskannya dengan jujur dari sudut pandang seorang perempuan yang mencintai dalam diam.


Sebagaimana judulnya, Egosentris menceritakan kehidupan pemuda-pemudi masa kini dengan mengangkat problematika yang sangat dekat dengan kehidupan modern saat ini. Iya, mental health issues. Suatu permasalahan yang sering kali luput dari perhatian manusia hanya karena dianggap wajar terjadi pada manusia yang “tidak normal”. Entah manusiawi atau pun tidak, saya sempat menganggap Fatih -tokoh utama dalam cerita ini- “terlalu drama”. Sampai akhirnya, anggapan itu bubar ketika saya membaca bab yang membuka rahasia Fatih satu per satu. Saya turut merasa kalut dan tangis saya pecah pada saat mengetahui rahasia pertamanya yang menceritakan tentang ayahnya.


Sebagaimana novel pada umumnya, penulis menuturkan cerita dari berbagai sudut pandang tokoh-tokoh yang ada di cerita. Namun uniknya, sudut pandang tersebut ternyata saling terkait satu sama lain dengan latar belakang yang sama yang juga dialami oleh tokoh lain. Sederhananya, penulis dapat menggambarkan dengan apik satu peristiwa yang dialami oleh beberapa tokoh cerita dengan masing-masing sudut pandang yang berbeda.


Melalui buku ini, saya dapat membayangkan bahwa di luar sana ada orang yang mengalami pergolakan batin dan melawannya habis-habisan, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ia sedang sakit, saking seringnya berpura-pura baik-baik saja. Sayangnya buku ini tidak secara eksplisit memberi jalan bagaimana harus menghadapi seseorang yang “batu” seperti Fatih. Nyatanya kita tidak bisa mengharapkan orang seperti dia untuk sadar dengan sendirinya. Parahnya lagi, tidak jarang mental health issues digunakan sebagai excuse untuk menyakiti orang lain atas nama penyakit. Singkatnya, orang yang “mengaku sakit mental” sering kali menuntut orang lain untuk memahami sakitnya, tanpa tahu dan mempertimbangkan bahwa perilaku “menuntut” itu juga sering kali menyakiti orang lain. Tak jarang, mereka terlalu sensitif terhadap orang lain yang bahkan tidak bermaksud bersikap ofensif terhadapnya. Dari sini, prinsip yang selalu saya pegang adalah feel offended is taken not given. Itu artinya Saya merasa tersinggung karena saya memilih untuk tersinggung. Merasa tersinggung itu adalah pilihan karena ada pilihan untuk tidak ambil pusing, masa bodo, dan tidak peduli terhadap sikap dan ucapan orang lain. 


Pada intinya, buku ini mengajarkan saya untuk peduli seperlunya dan bertindak sewajarnya sebagai kata yang pas untuk menjalani hidup yang semakin dipenuhi oleh manusia-manusia “sakit”.  Selain itu, buku ini juga mengajarkan untuk melihat dan memposisikan diri sebagai orang lain yang sering kita judge. Sebagaimana judulnya, buku ini mengajarkan saya untuk tidak menjadi manusia yang egois. Satu hal lagi yang perlu diingat, yakni you do not deserve a point of view if the only thing you see is you and only you.



View all my reviews

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *