Menyingkap Sisi Lain Kehidupan Perawat Psikiatri dalam 'Daily Dose of Sunshine'
Rate: 4/5
Profil Film & Pemeran
- Judul: Daily Dose of Sunshine/정신병동에도 아침이 와요
- Tanggal Rilis: 3 November 2023
- Genre: Acara TV Drama, Korea, Drama Korea Adaptasi Webtoon
- Kreator: Lee JQ, Kim Nam-su,Lee Nam-kyu, Oh Bo-hyun, Kim Da-hee
- Platform: Netflix
- Episode: 12
- Bahasa: Korea
Park Bo-Young
as Jung Da-eun
Yeon Woo-Jin
as Dong Go-yoon
Jang Dong-Yoon
as Song Yu-chan
Sinopsis
Mengisahkan kehidupan Jung Da-eun, seorang perawat yang bekerja di Rumah Sakit Universitas Myung Shin. Meskipun ini sudah tahun ketiganya menjadi seorang perawat di poli penyakit dalam, ia merasakan ada perbedaan yang kentara ketika ia memutuskan untuk beralih menjadi perawat di poli kesehatan jiwa (psikiatri). Tak pelak ia kerap menghadapi kesulitan dan kelelahan dalam menjalani hidupnya sehari-hari karena seorang tenaga medis hanyalah manusia biasa juga. Meskipun demikian, ia selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya.
Ketulusan dan kegigihannya dalam merawat pasien membuatnya dikenal sebagai ‘perawat baik hati’. Kebaikan itu tak hanya dirasakan oleh para pasien, tapi juga rekan-rekannya, termasuk Dong Go-yoon, seorang dokter spesialis bedah kolorektal yang menyembunyikan gangguan psikologis yang dialaminya. Hal inilah yang membuat Go-yoon tersenyum tanpa sadar ketika mengamati Da-eun. Hingga suatu ketika, Go-yoon merasakan gangguan psikologisnya berangsur-angsur hilang dan ia pun merasa sembuh karena kedekatannya dengan Da-eun.
Kesibukannya sebagai perawat membuat Da-eun merasa bersalah dan terpukul ketika ia belakangan mengetahui bahwa Song Yu-chan, sahabatnya dari kecil mengidap gangguan kecemasan. Yu-chan adalah pribadi yang lucu dan periang. Namun di balik keceriaannya, ternyata Yu-chan memendam rasa sakit dalam dirinya tanpa seorang pun tahu, termasuk Da-eun. Selain merahasiakan gangguan psikologis yang dimilikinya, Yu-chan juga memendam perasaan jatuh cintanya kepada Da-eun karena ia terlalu takut kehilangan.
Kehidupan Da-eun sebagai seorang profesional yang telah bertemu dengan penderita berbagai gangguan jiwa, sedikit banyak telah memengaruhi kehidupan pribadinya. Hingga ia sendiri tak menyadari ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia terlalu sibuk menyembuhkan luka batin orang lain hingga ia tidak sadar bahwa ia terlalu lelah dan juga terluka. Di mana luka batin yang dialaminya juga semakin banyak, lebar, dan dalam. Simak kisah selengkapnya hanya di Netflix.
The Interesting Things
Menutup akhir tahun 2023 dengan menonton series ini adalah keputusan yang tepat. Untuk memulai lembaran baru di awal tahun, ada banyak hal yang dapat dijadikan pegangan dan pelajaran hidup dari series ini jika kita mau menginsafi bahwa gangguan mental dapat diderita oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Series ini menyadarkan kita akan pentingnya memiliki jiwa yang sehat. Ini bukan lagi persoalan remeh temeh sebagai bumbu drama di masyarakat. Yang terakhir dan tak kalah penting adalah drama ini membuka mata kita bahwa orang yang membutuhkan perhatian dan pertolongan tidak hanya penderita, melainkan juga wali/pengampu mereka. Berikut adalah hal-hal menarik yang saya temukan ketika telah selesai menonton series ini. (Mengandung spoiler!)
Hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah cara penyampaian informasi yang mudah dimengerti, terutama mengenai jenis-jenis gangguan mental beserta latar belakang, penyebab, dan resolusinya. Setiap pasien yang datang dan dirawat seolah-olah menjadi representasi dari jenis-jenis gangguan mental. Ada banyak jenis gangguan mental yang dibahas, oleh karenanya tulisan ini hanya akan membahas beberapa gangguan mental yang menurut saya paling membekas dalam ingatan.
- Bipolar Disorder
Pada episode pertama, penonton akan sedikit dikagetkan dengan adegan Oh Ri-na yang mengidap gangguan bipolar. Menurut keterangan sang ibu, ia adalah seorang yang kalem, mempunyai suami seorang hakim, dan bergelimang harta sejak lahir. Namun faktanya, ia tidak merasakan kebahagiaan atas segala yang dimilikinya tersebut. Ternyata kehidupan yang sempurna hanyalah anggapan orang lain terhadapnya, sementara orang lain itu tidak mengetahui dan mengerti bahwa ia justru mempunyai luka batin begitu dalam.
Bipolar sendiri merupakan suatu gangguan mental yang erat kaitannya dengan perubahan suasana hati (mood) yang drastis. Hal ini sering kali ditandai dengan adanya perubahan perilaku mulai dari fase terendah (depresif) hingga ke fase tertinggi (manik). Oleh karenanya, pengidap bipolar yang awalnya merupakan sosok yang kalem dapat berubah menjadi sangat agresif hingga emosinya meledak-ledak.
- Waham Paranoid
Jenis gangguan mental kedua adalah waham paranoid yang dialami oleh Jung Ha-ram. Waham atau lebih dikenal dengan delusi adalah kondisi yang mengakibatkan pengidap memiliki keyakinan palsu yang tidak didasarkan pada kenyataan. Pengidap delusi paranoid menganggap apa yang dialami, dilihat, atau didengarnya benar-benar terjadi dan mereka selalu curiga karena mereka yakin bahwa mereka sedang dalam ancaman bahaya. Mereka pun akan meyakinkan orang lain bahwa hal tersebut adalah fakta.
Ha-ram mengalami gangguan waham paranoid karena mengalami masalah perekonomian yang membuatnya begitu tertekan. Ia lantas mendapatkan panggilan pekerjaan. Bukannya mendapatkan pekerjaan impian, ia justru menjadi korban penipuan yang mengakibatkan uang di rekeningnya terkuras habis. Scene ini sangat menempel di ingatan saya karena cukup membuat trauma. Trauma yang membekas tidak hanya dari sisi Ha-ram sebagai pengidap gangguan mental yang tersiksa batinnya, melainkan juga sisi Da-eun sebagai seorang yang merawatnya. Dalam series ini, Ha-ram menuduh Da-eun mencuri uang tabungannya senilai 30 juta won. Ha-ram pun mulai memusuhi Da-eun bahkan sampai berperilaku yang menjurus ke aksi teror. Sebagai seorang manusia biasa, Da-eun mulai membenci Ha-ram dan membenci dirinya sendiri karena merasa seperti itu. Ia menyesalkan dirinya sendiri karena seorang perawat tidak seharusnya membenci siapa pun khususnya pasiennya.
- Skizofrenia
Kisah lain yang lebih membekas lagi dalam benak saya adalah scene tentang Kim Seo-wan. Ia adalah seorang pasien yang pikirannya terjebak dalam gim Lost Valhalla. Dulunya, ia adalah seorang siswa calon pegawai negeri yang telah mengikuti tes tujuh kali dan selalu gagal. Ia selalu belajar dengan keras dan selalu hampir lulus ujian. Ujian yang terus dilakukannya memberinya harapan bahwa suatu saat ia bisa lulus jika ia belajar lebih giat lagi. Namun ternyata belajar secara berlebihan justru menjadi alasan utama mengapa Kim Seo-wan berada di poli kesehatan jiwa. Ujian dan kegagalan tersebut lama-kelamaan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Ketika ia terus-menerus gagal dalam ujian sementara teman-teman satu angkatannya berhasil lulus, ia menemukan hiburan dengan memainkan gim Lost Valhalla hingga membuatnya di larikan ke rumah sakit karena pikirannya tidak dapat lagi membedakan realita dan gim yang dimainkannya.
Selama proses perawatan, Seo-wan sangat menyukai dan menganggap Da-eun sebagai “Sang Pengantara”, karakter gim yang menjadi halusinasinya. Bagi Seo-wan, Da-eun adalah perawat terbaik dan seorang yang paling ia percaya di poli kesehatan jiwa. Bahkan setiap kali Da-eun bekerja terlalu keras atau merasa sedih, Seo-wan berusaha untuk membuat Da-eun merasa lebih baik.
Seiring berjalannya waktu, kesehatan mental Kim Seo-wan semakin membaik. Ia tidak lagi merasa menjadi seorang penyihir di gim dan mulai menyebut dirinya sebagai seorang mahasiswa calon pegawai negeri. Meskipun dia sempat takut dan putus asa karena tidak sempat belajar selama perawatan, Da-eun mendorongnya untuk mengikuti ujian calon pegawai negeri lagi. Meskipun demikian, Seo-wan akhirnya memilih untuk menyerah dan kehilangan kendali atas pikirannya. ia pun mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas gedung.
- Amnesia Disosiatif
Kepergian Seo-wan lantas membuat Da-eun sangat terpukul hingga ia mengalami amnesia disosiatif, yakni suatu kondisi yang terjadi ketika pikiran seseorang mencoba memblokir memori penting yang mungkin disebabkan oleh peristiwa traumatis sehingga ia tidak lagi mengingat peristiwa penting tersebut. Da-eun pun memutuskan untuk istirahat dan mengambil cuti. Namun bukannya semakin membaik, kondisinya justru semakin memburuk hingga ia mengalami depresi berat. Ia mulai merasakan kesedihan yang mendalam, kehilangan minat dan kegembiraan sehingga berpengaruh pada aktivitas kesehariannya. Akhirnya ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa Hanyang yang cukup jauh dari rumahnya karena melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalan raya.

Misalnya pada scene yang membahas tentang serangan panik yang dialami oleh Song Yu-chan dan Ji Seung-jae (siswa magang di poli kesehatan jiwa). Meskipun sama-sama mengalami gangguan kesehatan mental serupa, akan tetapi penggambaran dan penerjemaham atas apa yang mereka rasakan sangatlah berbeda. Namun, ada satu hal yang mungkin dirasakan oleh keduanya, yakni kesulitan bernafas sebagaimana dijelaskan pada saat scene simulasi menjadi penderita.
Tidak hanya memberikan informasi mengenai jenis gangguan mental yang dibungkus dengan visual yang sederhana, series ini juga memberikan kita pelajaran tentang cara berinteraksi yang benar dan yang keliru terhadap seseorang pengidap gangguan mental. Hal ini dapat kita lihat dan bandingkan bagaimana tenaga kesehatan memperlakukan pasiennya dan bagaimana keluarga dekat dan masyarakat dalam melabeli mereka dengan stigma negatif sebagai aib, produk gagal, pengganggu, dan sebagainya. Baik itu interaksi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun keluarga atau masyarakat terhadap penderita, selalu ada pesan terselip apabila kita jeli menyimaknya.
Misalnya scene yang menjadi klimaks di series ini, yakni ketika Da-eun kembali bekerja untuk merawat pasien setelah sembuh dari depresinya. Banyak wali pasien menolak Da-eun sebagai perawat karena dia adalah perawat dengan gangguan jiwa. Namun, perawat lain tetap meyakinkan bahwa seharusnya para wali pasien tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut karena Da-eun sudah sembuh. Justru hal ini seharusnya dianggap privilege karena mereka dirawat oleh seorang penyintas gangguan mental yang tentu saja lebih mampu memahami kondisi pasien dari seluruh tenaga medis yang bekerja di poli kesehatan jiwa ini.
Kita sering kali terlalu sibuk dan merasa dunia berputar begitu cepat sehingga kita sering kali lupa bahwa diri sendiri juga butuh untuk diperhatikan. Bahkan saking banyaknya urusan dunia yang perlu diselesaikan, sampai-sampai kita tidak lagi mengenali diri kita sendiri. Satu hal terakhir dan tak kalah penting, series ini juga memberikan cara untuk refleksi diri, termasuk cara agar dapat mengendalikan emosi negatif supaya tidak melahirkan perilaku yang destruktif. Yup, caranya adalah dengan melakukan journaling yakni sebuah aktivitas untuk menuangkan ide, pikiran, maupun emosi terhadap berbagai peristiwa yang dialami selama hidup agar kita mampu menguraikan dan memahaminya dengan lebih jelas, baik itu dituangkan dalam bentuk tulisan maupun gambar.
Dalam series ini, kita bisa melihat bahwa salah satu terapi sederhana tapi penting bagi penderita gangguan mental adalah dengan journaling. Kita bisa menyontek cara Kwon Ju-yeong, seorang ibu pekerja yang workaholic, tapi tetap mengutamakan kebahagiaan anaknya. Suatu ketika dokter memintanya untuk menuliskan catatan hidupnya beberapa tahun terakhir, lantas dibaca kembali oleh dirinya dan memberikan stabilo kuning untuk hal-hal yang menunjukkan emosi negatif atau hal yang tidak disukainya. Ternyata, semakin bertambah usianya, semakin banyak pula kalimat yang ia beri stabilo kuning. Atau kita bisa menyontek cara Da-eun yang membuat jurnal pujian untuk diri sendiri sebagai bentuk apresiasi diri yang sering kali kita lupa untuk melakukannya. Sederhana sekali, bukan?
Kesimpulan
Sejujurnya, saya menonton series ini secara clueless. Bahkan saya tidak tahu kalau series ini merupakan karya adaptasi dari sebuah Webtoon. Saya tertarik begitu saja ketika membaca judulnya, ditambah dengan vibes yang menurut saya ceria dan hangat. Dengan kata lain, saya mempunyai ekspektasi dangkal karena hanya membayangkan series ini berisi romansa antara sejawat tenaga kesehatan. Ternyata lebih dari itu, series ini menyampaikan pesan yang begitu dalam dan sangat bermakna terkait permasalahan hidup yang sering kali luput dari perhatian kita. Maka dari itu, sebaiknya kita perlu menonton series ini dengan pikiran yang terbuka.
Secara garis besar, series ini mengandung dua aspek penting yang saling berkaitan, yakni: mengedukasi masyarakat awam yang menonton agar mempunyai pemahaman yang lebih baik terkait perjuangan dan pergulatan batin yang dialami oleh penderita gangguan mental; sekaligus memberikan pemahaman kepada penderita bahwa selalu ada harapan bagi mereka karena mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesulitannya.













