Anak Bajang Menggiring Angin: Ramayana Lebih dari Kisah Cinta Rama dan Sinta

My rating: 5 of 5 stars

Selama ini saya mengetahui Wiracarita Ramayana yang dikarang oleh Walmiki hanya sebatas kisah cinta antara Rama dan Sinta saja. Namun, setelah membaca buku Anak Bajang Menggiiring Angin ini, saya baru mulai menyadari bahwa Ramayana telah disederhanakan sedemikian rupa dan direduksi begitu saja, sehingga mengabaikan pesan-pesan penting yang ada di dalamnya.

Buku ini terdiri dari delapan bab dan bab ini terpecah menjadi beberapa bagian. Beberapa bab di awal akan sedikit membingungkan karena banyaknya tokoh dan belum menunjukkan adanya keterkaitan tokoh yang satu dengan yang lain. Namun setelah melewati 1/4 babak pertama, barulah muncul keterkaitan tokoh yang telah diceritakan di awal.

Membaca buku ini seakan-akan mendorong saya untuk membangun imajinasi pagelaran wayang di kepala saya. Hanya saja yang digunakan bukanlah bahasa jawa yang susah dimengerti, melainkan bahasa Indonesia yang indah dan puitis. Kata yang dipilih untuk membentuk suatu kalimat yang puitis, sederhana, tidak bertele-tele, sangat menyenangkan untuk dibaca jika pembaca adalah seorang yang menyukai gaya penyampaian yang demikian. Awalnya saya memang merasa agak aneh membaca cerita yang bentuknya mirip prosa, tapi menurut saya memang demikian seharusnya karena -mungkin- ini adalah salah satu cara penulis untuk membangun suasana seperti pertunjukan wayang yang dipimpin oleh seorang dalang.

Memang saya tidak pernah sekalipun membaca Ramayana yang ditulis langsung oleh Walmiki, mengingat keterbatasan akses dan tentunya keterbatasan bahasa. Namun saya percaya, apa yang ingin disampaikan oleh Walmiki adalah lebih dari itu, yakni pesan moral untuk tetap menjadi makhluk yang rendah hati agar tidak dibinasakan oleh kesombongan diri. Hal tersebut dipersonifikasi oleh tokoh Anoman dan Rahwana dalam kisah ini.

Bahkan buku ini saja menyinggung secara implisit, hendak menampik pemahaman bahwa Wiracarita Ramayana tidak hanya berisi kisah cinta Rama dan Sinta yang berakhir tidak bahagia. Melalui buku ini, Romo Sindhunata menuliskan bahwa perang antara Rama yang dibantu oleh bala tentara kera melawan Rahwana bukan hanya perihal merebut Sinta kembali, melainkan untuk mengalahkan angkara murka dan sejarah manusia yang ingin mewujudkan kesempurnaanya. Sejarah manusia bermula dengan kegagalan manusia menghayati Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, maka sejarah ini harus berakhir dengan kerelaan manusia untuk menerima anugerah Sastra Jendra. Rama dan Sinta hanyalah lambang dari itu semua. Dan yang paling epik, di akhir bukunya, penulis seakan menyindir akhir kisah cinta Rama dan Sinta dengan menuliskan: “Dan mereka (anak-anak raksasa dan anak-anak kera) tiada berpikir apa-apa, kecuali bergembira. Kisah dan riwayat yang dialami orang tuua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.

Memang buku ini tidak akan berguna jika yang dikejar hanyalah kisah cintanya saja dan mengabaikan kisah-kisah lain yang melingkupinya, yang sejatinya bukan hanya sebagai pelengkap.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *