My rating: 4 of 5 stars
Buku ini mengenalkanku pada daerah yang bernama Digul. Sebegitu menyedihkannya menjadi seorang tahanan politik yang dibuang disuatu tempat dan harus bertahan melawan orang asli yang pada saat itu masih terkenal kanbal, malaria hitam, dan penyakit diare. Belum lagi rindu kepada keluarga di tanah asal. Pada dasarnya cerita-cerita dalam buku ini tidak bersambung. Ada lima cerita yang berdiri sendiri, dan cerita yang paling aku suka adalah “Antara Hidup dan mati atau Buron dari Boven Digul” oleh Wiranta, sebab ceritanya sedih dan kadang ada lucunya. Memang pemilihan bahasa yang dipakai cukup membuat saya bosan. Tapi, seluruhnya saya menyukainya.


