Distilasi Alkena: Kompilasi Berbagai Kisah Patah Hati

My rating: 4 of 5 stars

     Harus saya akui bahwa buku ini kaya akan kosa kata yang berima dan cukup menyenangkan untuk dibaca pada saat kondisi hati yang sedang patah-patahnya. Belum lagi istilah-istilah kimia yang cukup asing bagi saya, seorang mantan anak ilmu sosial yang justru tidak cukup pandai dalam bersosialisasi ini. Saya sebelumnya tidak pernah membaca prosa. Saya pikir prosa cukup membosankan karena-dalam mindset saya- prosa adalah untaian kata-kata yang terlalu panjang untuk dikategorikan sebagai puisi, tapi terlalu pendek untuk dikategorikan sebagai cerpen. Dan tugas mengubah prosa menjadi puisi atau sebaliknya adalah tugas yang paling tidak saya sukai pada saat sekolah, karena saya selalu merasa gagal dalam mengintepretasikan puisi menjadi suatu paragraf yang utuh. 
     Terlepas dari hal itu, saya akui juga bahwa Wira begitu lihai mentransfer stress level pesakitannya kepada para pembacanya (yang tentu pernah mengalami hal yang sama). Jika diulas secara garis besar dan sekilas, buku ini berisi tema patah hati – membenci – mencoba melupakan dan move on – gagal move on – mencoba move on lagi – berhasil move on karena ia tahu kunci move on itu bukan melupakan tapi mengikhlaskan. Selain itu, Wira juga sering menggunakan kata-kata yang sama dalam menggambarkan sesuatu yang sama pula, seperti senja, kopi, gula, dalam menggambarkan kepergian, pahitnya cinta/rindu, dan manisnya senyum indahmu/kenangan tempo dulu, dll. Saya tebak -semoga salah- ini memang cara Wira dalam menggambarkan apa-apa yang ingin ia ceritakan, secara konsisten. Namun, oleh karena tema tulisannya seputar patah hati, saya pikir ini cukup monoton untuk diputar berulang kali.
     Satu hal lagi. Meskipun berisi kumpulan tulisan patah hati, buku ini tidak mengajarkan kita untuk bersikap lemah dan menyerah, justru mengajarkan kita untuk menghadapi dan mengobati luka patah hati dengan cara yang lebih dewasa. Ini memaksa saya setuju dengan Wira, bahwa mengiklhaskan adalah tingkat tertinggi menyayangi seseorang, apalagi bagi dia yang tidak dapat kita miliki karena kasih sayang tidak melulu soal kepemilikan. 

View all my reviews

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *