Nguri-uri Budaya: Busana Khas Bojonegoro

Taken by Yune Iza
Beberapa
waktu yang lalu, tepatnya pada 21 dan 22 April 2019, Pemerintah Daerah Kabupaten
Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyelenggarakan acara yang
bertajuk “Festival Kartini” di Gedung Serbaguna, Ledok Kulon, Bojonegoro. Dalam
laman resminya, Pemerintah Bojonegoro menyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya
acara ini adalah sebagai sarana sosialisasi mengenai busana khas Bojonegoro,
mendorong pemberdayaan perempuan, meningkatkan kesadaran kaum Adam terkait
emansipasi perempuan, dan sebagai wujud nyata dalam menunjukkan eksistensi dan
produktivitas perempuan di Bojonegoro.
Busana Kange dan Busana Yune, 
Lampiran I Peraturan Bupati

Salah
satu dari beberapa kegiatan dalam Festival Kartini adalah Seminar Busana Khas
Bojonegoro yang disampaikan oleh Bapak Joko Parikesit dan dimoderatori oleh
seorang budayawan Bojonegoro, Bapak Adi Sutarto. Di atas panggung yang megah
tersebut, Bapak Joko Parikesit telah didampingi oleh dua pasang Kange dan Yune yang
siap untuk meragakan busana khas Bojonegoro.

Pada dasarnya,
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro secara gamblang telah meletakkan perhatian yang
khusus terhadap pelestarian dan pengembangan warisan budaya daerah. Hal ini dapat
dilihat dari keseriusan Pemerintah Daerah Bojonegoro yang telah mengesahkan
Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 25 Tahun 2013 tentang Busana Khas DaerahKabupaten Bojonegoro (selanjutnya disebut Perbup). Dalam Perbup tersebut dijelaskan:[1]

Bentuk Busana Khas Daerah
secara keseluruhan adalah akulturasi dan asimilasi dari busana yang dikenakan oleh
masyarakat desa dan kota, masyarakat golongan pegawai dan petani, masyarakat
ekonomi menengah ke bawah.
 

     Lebih jauh lagi, menurut Perbup tersebut, bentuk
busana disesuaikan dengan ciri khas yang merupakan interseksi busana yang digunakan
oleh seluruh lapisan masyarakat pada masa lampau sebagai busana resmi untuk menghadiri
acara penting, seperti upacara kenegaraan, pernikahan, atau khitan. Oleh sebab
itu, busana Khas Daerah Kabupaten Bojonegoro yang telah ditetapkan melalui Perbup
ini dikenakan untuk kegiatan-kegiatan, antara lain:
[2]

1.      
upacara resmi yang bersifat kedaerahan, seperti:
a.   hari jadi Bojonegoro;
b.   upacara maupun penerimaan tamu dari luar Kabupaten
Bojonegoro;
c.  upacara tradisional daerah di Kabupaten
Bojonegoro;
2.     
upacara resmi nasional/internasional yang mewakili
daerah, seperti:
a.   resepsi hari ulang tahun kemerdekaan Republik
Indonesia;
b.   upacara penerimaan hadiah kejuaraan/keteladanan;
c.  resepsi ulang tahun negara-negara sahabat;
3.     
kegiatan lainnya, seperti:
a.  acara resmi daerah, busana resmi untuk penjaga
stan/paviliun Kabupaten Bojonegoro;
b. pawai, pameran, dan upacara pembukaan/pembukaan
kegiatan resmi di Kabupaten Bojonegoro.
Busana
Khas Daerah Bojonegoro terdiri dari dua macam, yakni Busana Kange dan Busana
Yune. Busana Kange adalah busana khas daerah Bojonegoro yang dikenakan oleh laki-laki,
sedangkan Busana Yune adalah busana khas daerah Bojonegoro yang dikenakan oleh
perempuan.

1.      
Busana Kange
Busana
Kange ditujukan untuk memberi kesan merbawani
atau berwibawa bagi yang mengenakannya. Apabila diuraikan secara
satu-persatu, busana Kange dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni kepala,
tubuh atas, tubuh bawah, dan alas.


a.     
Bagian Kepala
Seorang Kange
mengenakan udeng atau kain yang dililitkan sedemikian rupa pada kepala yang
berfungsi sebagai kopyah atau pengganti kopyah. Udeng tersebut berasal dari
kain yang senada dengan jarit atau kain panjang yang bermotif sekar jati dengan
warna dasar putih. Menurut Bapak Joko Parikesit, udeng yang dikenakan oleh
Kange bertajuk Pacul Gowang, yang mengandung
makna filosofis bahwa seorang kange harus memahami segala tindak tanduk yang
dilakukan oleh dirinya.


b.     
Bagian Tubuh Atas
Seorang Kange
mengenakan baju dengan warna hitam dengan berbentuk sebagai berikut:
1)  baju lengan panjang dengan bentuk jahitan jas
warna hitam, mengandung makna bahwa seorang Kange mempunyai etika kesopanan
yang tinggi sekaligus kemantapan dan ketegasan hati yang tidak mudah terpengaruh
oleh godaan duniawi;
2)   baju taqwa kerah pendek, yang mengandung makna
bahwa ia mempunyai tekad dan kemantapan hati dalam melaksanakan ibadah lima
waktu dan selalu mendekap dengan mendem
jero mikul duwur
kedua orang tua;
3)  dua buah kancing emas yang terletak di ujung kerah
taqwa melambangkan ayah dan ibu;
4)   lima buah kancing emas di baju melambangkan salat
lima waktu sebagai tiang agama;
5)  tiga buah kancing emas di ujung lengan sebelah
kanan dan kiri melambangkan sepasang pengantin laku-laki dan perempuan serta
seorang wali;
6) tiga buah saku, satu saku yang terletak di atas/dada
sebelah kiri tanpa tutup melambangkan alam raya, dan dua buah saku dengan tutup
yang terletak di kanan dan kiri bawah melambangkan alam kehidupan dan alam
kematian;
7)  kuku macan berwarna emas dengan rantai yang
dipasang menggelantung  antara saku baju
atas dengan  kancing baju kedua dari
atas, melambangkan ketajaman berpikir, sehingga dapat mengambil keputusan
dengan tepat, bijak dan tidak serakah.
c.      Bagian Tubuh
bawah
Seorang kange mengenakan jarit/kain panjang dengan
warna dasar putih (bledak) dengan
motif sekar jati yang mengandung makna filosofis bahwa pada dasarnya manusia itu
suci dan bersih, akan tetapi dalam perjalanannya akan mengalami pasang surut. Kain
jarit tersebut terdapat wiron/lipatan
kain yang lebarnya seukuran tiga jari dengan jumlah ganjil dan jatuh pada
sebelah kanan. Hal tersebut melambangkan bahwa kaum laki-laki lebih panjang
jangkauannya, selalu melindungi kaum perempuan, serta sebagai lambang kepemimpinan,
dengan harapan bahwa ia dapat menyimpan segala rahasia orang tua atau keluarganya
dengan mendem jeru mikul dhuwur nama
keluarga.
d.    
Dasar/Alas
Seorang Kange mengenakan selop tutup hitam yang mengandung
makna filosofis bahwa manusia harus selalu berhati-hati dalam bertindak.
2.      
Busana Yune
Sebagaimana Busana Kange, Busana
Yune juga dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni:
a.     
Bagian Kepala
Seorang
Y
une mengenakan Sanggul Prau Tumplek, yang terdiri dari gelung tekuk
dengan tiga buah susuk yang melambangkan bahwa kita berasal dari bawah dan
manusia harus patuh kepada ajaran agama serta memiliki tekad yang kuat dalam
melaksanakannya. Pada sanggul tersebut di selipkan susuk bunga melati, sehingga
membentuk suatu melati dalam gelombang yang bermakna kesucian. Pada bagian
telinga terdapat suweng/anting janggleng yang melambangkan hasil bumi yang
terus digali. Bagi Yune yang mengenakan jilbab, dilengkapi dengan selendang panjang
berwarna hitam yang dililitkan sedemikian rupa, sehingga menutupi kepala bagian
belakang/sanggul dan bahu.
b.     
Bagian Tubuh Atas
1) Seorang Yune yang tidak berjilbab, mengenakan baju
kebaya berwarna hitam yang sejenis brokat yang melambangkan kemantapan dan
keluwesan. Sedangkan bagi Yune yang berjilbab, mengenakan baju kebaya yang
berwarna hitam dengan kain yang sedikit lebih tidak transparan. Dengan kata
lain, seluruh bagian kebaya ditutupi dengan kain puring berwarna hitam.
2) Pada bagian depan, Busana Yune dilengkapi atribut
peniti renteng yang berjumlah tiga buah yang digandeng dengan rantai sebagai lambang
rangkaian tatanan hidup manusia yang terdiri dari tiga masa, yakni masa kanak-kanak,
masa dewasa, dan masa tua.
3) Busana Yune juga dilengkapi dengan kain panjang/selendang
batik selebar lima jari yang warna dan motifnya senada dengan kain jarit.
c.      Bagian Tubuh
Bawah
Seorang Yune mengenakan setagen berwarna hitam
yang melambangkan bahwa manusia harus mampu menahan hawa nafsu untuk jejeg/berdiri tegak serta keselarasan
pikiran dengan tindakan. Sebagaimana Kange, Yune juga mengenakan jarit/kain panjang
dengan warna dasar putih (bledak)
dengan motif sekar jati. Kain jarit tersebut terdapat wiron/lipatan kain kecil yang lebarnya seukuran 1,5 sampai 2 jari
dengan jumlah ganjil dan jatuh pada sebelah kiri yang mengandung makna bahwa perempuan
harus rajin dan teliti dalam bertindak, dan selalu dapat mendem jeru mikul dhuwur nama keluarga sekaligus sebagai penyeimbang
dalam keluarga.
d.    
Dasar/Alas
Sebagaimana
Kange, Yune juga menggunakan selop atau alas kaki hitam.
 

Busana Kange dan Yune oleh Kange Yune 2017




[1]
Bojonegoro, Peraturan Bupati tentang Busana Khas Bojonegoro, Perbup No. 25
Tahun 2013, Lampiran I.
[2]
Ibid., Ps. 5.

7 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *