Wisata Waduk Grobogan: Family Friendly Tours

       Pada akhir tahun 2018, kami sekeluarga
memutuskan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata lokal di kabupaten
Bojonegoro yang baru dirintis pada tahun 2017 lalu. Wisata ini bernama Wisata
Waduk Grobogan (WWG), terletak di Bendo Lor, Kapas, Bojonegoro. Destinasi wisata
ini cukup membuat kami penasaran, selain karena lokasinya yang tidak begitu
jauh dengan kecamatan tempat kami tinggal, destinasi wisata ini kabarnya juga
menawarkan berbagai wahana permainan yang menyenangkan.

           
   Destinasi wisata ini memanfaatkan
embung yang sehari-harinya digunakan untuk mengairi sawah di sekitarnya. Agar
dapat masuk ke lokasi wisata ini, pengunjung diwajibkan membayar jasa kebersihan
yang sekaligus merupakan tiket masuk sebesar Rp2.000,- (dua ribu rupiah) setiap
orangnya. Cukup terjangkau, bukan? Kami pun segera membeli empat lembar tiket
untuk empat orang dan langsung menuju waduk. Adapun wahana permainan yang
tersedia pada saat kami berkunjung adalah perahu gethek, perahu/sepeda bebek, titik swafoto, food court dan taman bermain anak-anak.

            Wahana permainan pertama yang kami
coba adalah perahu gethek atau perahu
yang berasal dari bambu atau kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat
mengapung di atas air. Gethek ini
dapat mengangkut sekitar 8-10 orang dewasa. Oleh karena kami hanya berjumlah
empat orang, maka kami harus menunggu wisatawan lain hingga slot kursi yang
tersedia sudah cukup penuh. Ternyata gethek
ini digerakkan secara manual oleh tenaga manusia dengan cara menarik tali
yang telah dipasang melintang sepanjang waduk. Untuk dapat menikmati wahana
perahu gethek ini, wisatawan cukup membayar
Rp10.000,- (sepuluh ribu rupiah) saja.

Pemandangan waduk dari perahu Gethek
Dengan adanya
embung ini, warga tidak hanya dapat menikmati suasana wisata buatan yang masih
terbilang alami, tetapi juga dapat memancing ikan yang ada di waduk ini. Itulah
sebabnya wahana air di sini menggunakan tenaga manual dan tidak menggunakan
mesin sama sekali. Menurut pemuda yang mengoperasikan wahana gethek ini, waduk ini dulunya sengaja dibangun
oleh Belanda, tapi tidak diteruskan karena adanya suatu kendala.

Setelah puas
menikmati wahana perahu
gethek, kami
sebetulnya juga ingin mencoba wahana perahu bebek. Namun panjangnya antrean
telah mengurungkan niat kami untuk mencoba wahana tersebut. Akhirnya kami memutuskan
untuk berjalan-jalan melewati taman yang ada di sepanjang waduk dan mencoba
berbagai titik lokasi swafoto yang warna-warni dan cukup unik. Lelah mengelilingi
taman, kami pun memutuskan untuk beristirahat dan menikmati waduk sambil mengisi
perut dengan makan bakso dan es degan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *