Tulisan ini Tidak mengulas Buku “Seperti Roda Berputar”

My rating: 4 of 5 stars

Seperti Roda Berputar adalah buku Cak Rusdi yang pertama kali saya baca. Sebelumnya, saya hanya menikmati tulisan-tulisan Cak Rusdi yang sering kali di unggah di halaman situs Mojok. Saya mendapatkannya secara gratis sebagai bonus retur dari buku “yang tak sempurna” terbitan Mojok yang saya beli di salah satu toko buku di kota Saya. Saya girang bukan main, sebab selama ini saya kepingin sekali membaca karya-karya Cak Rusdi tapi belum pernah kesampaian.
Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 78 halaman, sehingga saya hanya membutuhkan waktu satu setengah jam untuk menghabiskannya sambil menunggu Trans Jakarta yang saya naiki ini sampai di tujuan akhir. Saya sampaikan terima kasih kepada Cak Rusdi yang telah berhasil membuat saya menangis sepanjang perjalanan. Sepertinya saya memang butuh menangis karena beberapa hari terakhir saya terlalu banyak tertawa. Bukankah hidup memang harus seimbang?
Membaca buku Cak Rusdi ini mengingatkan kejadian yang hampir sama seperti yang dialami oleh kakek dan keluarga saya sebagai pengguna jasa jaminan kesehatan yang dikelola oleh Pemerintah. Betapa hati saya hancur melihat kakek saya yang sudah lanjut usia ini mengeluh selama tiga hari tiga malam di ruang IGD rumah sakit rujukan di kota saya, dengan kondisi kedua tangan yang nyeri tidak bisa lagi digunakan dan perut yang selalu sakit karena terluka akibat terlalu banyak mengonsumsi obat anti nyeri dengan dosis yang tinggi, tanpa resep dokter. Jangan dibayangkan IGD tempat kakek saya ini ruangan yang nyaman. Meskipun ruangan ini ukurannya sekitar 10x10m, tapi ruangan ini diisi oleh belasan pasien dengan berbagai macam jenis penyakit ditambah beberapa keluarga yang menunggui masing-masing pasien. Bahkan sebelum masuk di ruangan tersebut, Kakek saya sempat di tempatkan di lobby pintu rumah sakit. Iya, benar-benar tempat lalu lalang orang keluar-masuk rumah sakit. Sesekali kakek saya dijenguk oleh mba-mba perawat yang rutin mengecek tensi kakek saya setiap pagi dan sore. Jangankan untuk tidur, makan dan minum saja kakek saya tak mampu karena mencium berbagai bau-bauan yang tidak enak di ruangan IGD. Kami sekeluarga mencoba memberi pengertian kepada Kakek untuk sabar sampai mendapatkan ruangan khusus yang nyaman nantinya.
Melihat kondisi kakek yang semakin banyak ngomel, Bapak saya sudah tidak tahan lagi. Beliau berencana untuk mencabut berkas pendaftaran kakek saya, kemudian mendaftarkannya lagi sebagai peserta umum, non asuransi. Namun pihak rumah sakit menolak dengan alasan bagaimana pun juga peserta maupun non peserta jaminan kesehatan tetap harus memakai kartu sakti itu karena pelayanannya akan sama saja.
Tepat pada hari ketiga, kakek saya menyerah. Ia pingsan di kamar mandi rumah sakit pada saat dibopong Bapak dan Om saya untuk buang air. Fesesnya sudah menghitam dan keras sehingga susah untuk dikeluarkan (dalam bahasa jawa disebut gegelen). Bapak saya mengaku, kakek saya langsung pingsan selepas memaksakan diri untuk mengeluarkan fesesnya tersebut. Baru kali ini saya melihat Bapak menangis sejadi-jadinya sambil membopong kakek keluar dari kamar mandi yang bersimbah kotoran disekujur kakinya. Barulah kemudian kakek saya dipindahkan di suatu ruangan khusus dan dipasangkan selang oksigen di mulutnya. Stetoskop ditempel di dada dan dokter mendapat kesimpulan bahwa jantung kakek saya melemah. Cepat-cepat dokter mengeluarkan alat sejenis defibliator, untuk menstimulasi detak jantung kakek agar kembali normal. Beberapa kali alat pacu jantung itu ditempelkan ke dada kakek. Alhamdulillah kakek masih bisa terselamatkan. Ruangan itu lebih mirip gudang penyimpanan daripada ruang khusus pasien kritis. Tabung dan selang oksigen, bahkan kardus berserakan dimana-mana. Sambil membersihkan kaki dan dubur kakek, lantas memakaikannya popok. Saya tercekat menahan tangis. Saya belum siap kehilangan.
Dua hari kakek saya di ruangan itu dan dan hanya terbaring tanpa daya. Kakek sudah tidak mampu lagi menggerakan anggota tubuhnya kecuali berkedip. Saya mengajaknya ngobrol sambil memegang tangannya yang dingin. Berharap dia lekas membaik walau nafasnya kian tersengal-sengal.
Dini hari beliau mendapatkan kamar yang sangat nyaman di rumah sakit yang sama dengan bangunan yang masih baru. Kakek saya terbaring lemah dan dipasang infus baru yang cairannya berwarna kekuningan, tidak lagi bening seperti biasanya. Makin parah ‘kah beliau?
Dua malam kakek saya bermalam di kamar itu. Kata pasien yang sudah lebih lama disitu, hampir selalu ada pasien yang keluar-masuk ruangan. Kakek saya adalah orang kelima yang masuk. Ya, mereka yang dipindahkan ke ruangan lain setelah dokter menyatakanya meninggal dunia, kemudian diisi oleh pasien lain yang sama kritisnya. Sudah dapat dipastikan bahwa orang itu sering mendengar isak tangis keluarga yang ditinggalkan, hampir setiap malam. Bagaimana perasaan pasien disini? Saya pikir akan lebih tertekan. Bukan hanya pasiennya tentu saja, tapi juga keluarga yang menunggui.
Melihat kondisi kakek yang cukup baik, saya memutuskan untuk pulang karena sudah berhari-hari tidak mandi. Esok paginya saya mendapati kakek telah berpulang, tanpa saya disisinya. Saya tidak ingin menyalahkan siapapun disini. Siapa yang tahu takdir Tuhan ‘kan? Sakit itu memang mahal ya. Siapa pula yang mau repot-repot mengurusi orang tua yang sudah tinggal menanti ajalnya?

View all my reviews

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *