My rating: 3 of 5 stars
Bekisar Merah adalah buku karangan Ahmad Tohari yang saya baca setelah lama menyelesaikan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Tak dapat saya sangkal bahwa trilogi tersebut membuat saya benar-benar jatuh cinta. Namun agaknya sedikit berbeda dengan yang satu ini. Meskipun begitu, saya selalu menyukai bagaimana Ahmad Tohari mendeskripsikan sesuatu melalui kalimat-kalimat indahnya. Begitu nyata dalam pikiran saya.
Tidak jauh berbeda dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari mengambil plot yang cukup sederhana dengan mengambil latar belakang kehidupan desa. Tokoh utama dalam buku ini adalah Lasiyah, seorang perempuan keturunan Jepang-Karangsoga yang seringkali mengalami perundungan di lingkungan kampung tempat tinggalnya. Tokoh lain yang menjadi favorit saya adalah Eyang Mus yang mengingatkan saya pada seorang tokoh agama yang namanya mirip, Gus Mus. Dengan kearifan yang dituturkan oleh Eyang Mus, saya turut merasakan kesederhanaan hidup di desa dengan surau kecil tanpa toa. Meskipun novel ini terbit pertama kali pada tahun 1993, tapi cerita tentang pembangunan surau besar-besaran yang kemudian dilengkapi dengan pengeras suara masih relevan untuk menyentil kaum tertentu saat ini. Salah satu kalimat yang menjadi catatan saya adalah sebagai berikut:
“Yang diseru dari surau kecil ini adalah hati dan jiwa manusia. Yang dipuji di surau ini adalah Gusti Yang Maha Mendengar. Jadi apa perlunya pengeras suara?” Keluh Eyang Mus.
Adapun hal-hal yang cukup mengganggu saya saat membaca adalah kalimat yang seringkali diulang-ulang, seperti “bebek manila”, “kimono merah”, “bekisar merah”, serta kenangan masa kecil antara Lasi dan Kanjat. Sayangnya, kisah cinta masa kecil itu hanya terhenti dengan penuturan penulis yang menyatakan bahwa Kanjat tidak seperti lelaki lain yang senang menggoda Lasi, dan ia senang bersembunyi di belakang Lasi. Hanya itu saja. Sehingga saya berpikir, apakah mungkin mereka hanya melewati satu kenangan manis yang itu-itu saja untuk kemudian bisa saling jatuh cinta sedemikian lama.
Saya pun sedikit kesal dengan penggambaran tokoh Lasi yang terlalu polos atau memang tidak punya akal itu. Saya pun agak kecewa karena saya pikir, konflik yang akan diceritakan adalah tentang pelarian keduanya dan bagaimana seorang Kanjat membawa lari Lasi yang sudah menjadi istrinya itu. Namun yang saya dapat bukanlah pelarian, melainkan penantian dan penjemputan. Dalam penantian dan penjemputan ini pun, penuturan seorang Kanjat tidak benar-benar tuntas. Ia hanya menjadi lelaki kesepian yang dirundung duka dan kebingungan.
Hal lain yang mengganjal hati saya adalah apakah orang-orang Karangsoga tidak tahu bahwa Lasi adalah simpanan pejabat? Jika tahu, mengapa orang-orang kampung tidak meributkan lagi seorang Lasi yang sudah melanggar batas-batas norma itu? Dan mengapa orang-orang kampung Karangsoga tidak mempermasalahkan kepergian Lasi yang begitu lama padahal sudah menjadi istri Kanjat walau belum sah. Sehingga, menurut saya plot dalam novel ini menjadi tidak lebih ironis daripada apa yang diceritakan di trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Dengan plot yang cukup lambat dan akhir cerita yang menurut saya terburu-buru, serta kesalahan eja dimana-mana, saya terpacu untuk membaca buku Ahmad Tohari yang lain untuk mengobati ini semua.


