My rating: 4 of 5 stars
Adalah buku puisi pertama yang saya selesaikan di tahun 2020. Membaca judulnya saja, membuat saya berfikir bahwa buku ini akan menyajikan puisi-puisi cinta yang sendu. Ternyata tidak semuanya. Buku ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan ketiga masing-masing hanya terdiri dari satu puisi saja. Seperti posisinya, perjalanan diawali di bagian pertama dengan puisi yang berjudul Pembuka Kata, sedangkan bagian ketiga ditutup dengan puisi yang berjudul Perjalanan ke Akhirat. Sisanya, adalah bagian kedua yang terdiri dari banyak puisi. Satu diantaranya yang menjadi favorit saya adalah Topeng Monyet karena “dekat” dengan kehidupan sosial masyarakat pinggiran.
Hal yang saya suka dari Eyang Sapardi adalah ia membebaskan dirinya melalui puisinya dengan menggunakan kata-kata yang menurut saya gaul. Dengan kata lain, beliau tidak menggunakan kata-kata yang asing terdengar hanya agar dianggap puitis. Sampai sini saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang pujangga, kita tidak harus mencari kata-kata yang tidak umum dipakai untuk mendapatkan kesan puitis. Sebagai catatan yang perlu digaris bawahi, hal itu (mencari padanan kata yang tidak umum untuk mendapatkan kesan puitis) sebenarnya bagus, tapi tidak harus, karena memang setiap penyair punya gayanya sendiri, sama halnya dengan Eyang Sapardi. Kita hanya perlu percaya diri, merasa diri tidak harus dicintai balik, dan tidak kecewa jika tidak diterima (bukan begitu?).


