Mengenali Agenda Pembiasan Nilai Moral melalui Novel "86"
Identitas Buku
Sinopsis
Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?
Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.
Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.
Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.
Pokoknya, 86!
Ulasan
Sebagai generasi yang terlalu menggantungkan hiburan terhadap tayangan televisi, judul novel ini segera mengingatkan saya kepada reality show yang menjadi salah satu program stasiun televisi. 86, baru saya paham artinya “dimengerti, sama-sama tahu” karena Okky Mandasari telah berkali-kali menyebutkan makna kode angka tersebut.
Novel ini secara tersirat menggambarkan fenomena sosial yang menormalisasi kekeliruan sampai menjadi sebuah kebenaran. Padahal itu merupakan sebuah agenda jahat untuk membolak-balikkan tatanan nilai moral di masyarakat. Hal itu dapat membuat kebimbangan yang akhirnya berujung pada bias nilai. Begitulah kira-kira hal yang mungkin hendak disampaikan oleh penulis.
Melihat alurnya yang sederhana, novel ini sepatutnya dapat diterima oleh berbagai kalangan, termasuk orang awam, tapi tidak termasuk anak usia di bawah umur karena mengandung konten sensitif. Saya senang dan menikmati pemilihan kata dan pengolahan kalimat yang sederhana yang menurut saya cukup mudah dipahami. Hanya saja, saya menyayangkan Mba Okky yang tidak melakukan eksplorasi yang lebih mendalam dalam menceritakan proses persidangan. Misalnya mengenai kasus pertanahan, dasar argumentasi hakim dalam memutuskan untuk memenangkan suatu gugatan itu tidak tergambar dengan jelas. Padahal pada pokoknya, persidangan itu bukan hanya perihal menang atau kalah, melainkan dasar argumentasi hakim. Mungkin itu bukan suatu hal yang fundamental menurut penulis, tapi itu justru hal penting agar masyarakat mengetahui perspektif hakim dan bagaimana hakim menjatuhkan putusan berdasarkan perspektif tersebut.
Selain itu, keputusan-keputusan yang sering kali diambil tokoh utama, Arimbi, terkesan terlalu pragmatis dan kurang menunjukkan sisi dilematis sehingga membuat saya berpikir ulang, apakah memang ada seorang sarjana hukum yang mendasarkan tindakannya bukan pada logikanya seperti Arimbi?
Tanpa merendahkan suatu profesi tertentu, menurut saya, buku ini menarik karena menceritakan ironi kisah Arimbi yang sebagian besar orang menganggap ia hidup sejahtera karena bekerja sebagai pegawai negeri, tapi justru sebaliknya. Ia justru terjerat kasus hukum yang menyeretnya ke dalam penjara. Perihal gaya hidup dan kesejahteraan pegawai negeri adalah cerita yang masih cukup relevan dengan realitas sekarang. Ini tentu saja membuktikan bahwa pekerjaan ini tidaklah mudah. Adalah hal yang wajar ketika rekrutmen CPNS dibuat sedemikian ketat, karena negara mencari abdi yang tidak hanya cerdas tapi juga bermoral dan berintegritas.
