Rahvayana: Aku Bingung ‘Aku’ ini Siapa

My rating: 5 of 5 stars

     Awalnya saya pikir buku ini merupakan propaganda yang bertujuan untuk mencuci otak pembaca dengan menggambarkan Rahwana sebagai sosok yang protagonis, sisi baik seorang Rahwana yang tak pernah diceritakan di panggung Ramayana. Ternyata saya tidak sepenuhnya salah. Buku ini berhasil mengobrak-abrik kesan saya terhadap kisah Ramayana. Memang, versi yang saya baca sebelumnya menggambarkan karakter Ramayana secara hitam dan putih, baik dan buruk, tidak benar-benar mendekati kenyataan bahwa sejatinya manusia ada yang diantara kedua warna tersebut, bahkan dalam wujud berbagai warna.

    Lagi-lagi saya terselamatkan karena membaca pengantar yang ditulis oleh penulis. Sujiwo Tejo melalui tulisannya mengatakan “Jiwa Rahwana terus hidup. Hidupnya menjadi gelembung-gelembung alias jisim. Siapa pun bisa dihinggapi gelembung itu, tak terkecuali saya. Yang menulis buku ini barangkali gelembung-gelembung itu, jisim Rahwana kepadaku.”

    Tidak saya pungkiri, awal membaca buku ini saya dibikin bingung karena diajak loncat kesana kemari. Sebentar-sebentar menceritakan kisah Ramayana, sesaat kemudian dibawa ke jaman modern dimana “aku” dan sosok perempuan yang dicintainya itu, Sinta, ke gedung teater, ke Borobudur, ke Ubud, ke mana sajalah terserah si penulis. Pantas saja banyak orang dibikin pusing kalau tidak benar-benar membacanya.

  Untungnya, sebelum baca buku ini, saya sedikit banyak sudah paham jalan cerita Ramayana (versi Rahwana yang sangat jahat sekali). Sehingga, saya tidak terlalu bingung memahami. Kuncinya satu, membebaskan diri untuk memaknai tokoh “aku” sebagai karakter yang bermacam-macam rupa, bisa jadi siapa pun dan dalam bentuk apa pun, tidak perlu memaksakan diri untuk mencari moral value yang ingin disampaikan penulis. Hal ini telah disampaikan oleh salah satu teman saya yang telah membaca ini sebelumnya. Terima kasih ya kepadamu. Heuheuheu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *