My rating: 4 of 5 stars
Siapa yang bilang manusia mempunyai derajat yang lebih mulia daripada makhluk lain? Jangan-jangan itu hanya klaim sepihak yang lantas menjadi doktrin dan diajarkan dari generasi ke generasi. Imajinasi liar ini muncul begitu saja setelah menyelesaikan novel ini.
Animal Farm benar-benar menohok, seolah hendak menggambarkan bahwa hidup hanya perihal menjajah dan dijajah. Kemerdekaan hanya sebatas istilah melepaskan diri dari penderitaan yang satu untuk memasuki penderitaan lain. Akar permasalahannya memang penderitaan, tapi itu akan menjadi permasalahan lain jika melihat siapa yang menjajah dan apakah mereka “merasa” terjajah. Sama halnya para binatang yang mengira berhasil berdiri di atas kakinya sendiri (sudah terbebas dari cengkeraman manusia), tapi pada akhirnya terinjak oleh sebangsanya sendiri, bangsa binatang berkaki empat yang ternyata cakap menggunakan dua kaki.
Ironisnya, para binatang itu tidak menganggap tirani kaum babi dan anjing sebagai suatu penjajahan. Mereka mengira, penjajahan dan penderitaan adalah dua hal yang berbeda terpisah dan tidak bersifat kumulatif. Dalam novel tersebut, persepsi para binatang yang demikian ini memang sengaja dibangun oleh yang berkuasa. Saya jadi curiga, jangan-jangan sejarah umpatan anjing dan babi yang ditujukan kepada oknum pemerintah dan oknum aparat yang melindunginya berawal dari sini. Hehe. Lalu, saya semakin berpikir, apakah saya sudah benar-benar merdeka, benar-benar sudah tidak terjajah, murni karena tidak ada penjajahan atau hanya karena ada penjajahan, tapi tak tampak di mata saya. Entah. Saya tidak tahu, saya hanya binatang ternak.


