There are 3 kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall.
The Platform atau El Hoyo dalam bahasa Spanyol adalah film bergenre horor-thriller fiksi ilmiah yang digarap oleh Sutradara bernama Galder Gaztelu-Urrutia. Film tersebut tayang perdana pada 6 Septermber 2019 dan berhasil memenangkan penghargaan People’s Choice Award kategori Midnight Madness di Toronto International Film Festival (TIFF). Film ini dapat juga ditonton di Netflix mulai 20 Maret 2020.
Setiap harinya, mereka disediakan makanan melalui platform atau papan mengambang yang berasal dari lantai paling atas, yang turun secara bertahap melewati lubang yang ada di setiap lantai. Alhasil, setiap lantai akan mendapatkan sisa makanan dari lantai sebelumnya. Sistem yang demikian ini, tentu saja akan menimbulkan konflik, karena penghuni di lantai atas dapat makan sebanyak yang mereka mau, sedangkan bagi mereka yang berada di bawah akan mendapatkan jatah makanan yang sedikit, bahkan tidak memperoleh jatah makanan sama sekali. Tak heran, penghuni yang ada di lantai bawah akan saling membunuh, entah itu agar mendapatkan jatah makanan lebih banyak, atau dapat memakan daging teman sekamarnya.
Setiap tokoh yang muncul di film ini membawa moral value yang tegas dan cukup mudah dimengerti. Awalnya, penonton diperkenalkan dengan tokoh utama bernama Goreng yang diperankan oleh Iván Massagué yang terbangun di sel beton bertuliskan angka 48. Teman satu selnya, Trimagasi yang diperankan oleh Zorion Eguileor, menjelaskan banyak hal yang belum diketahui oleh Goreng. Terlihat, film ini menggunakan istilah-istilah bahasa melayu/Indonesia untuk menamai tokoh-tokoh mereka, seperti Trimagasi yang merupakan plesetan dari kata “terima kasih”; Imoguiri yang mirip dengan nama tempat di daerah Bantul, Yogyakarta; dan Sr. Brambang yang berarti bawang merah dalam bahasa Jawa. Tokoh lain yang tidak kalah pentingnya adalah Baharat yang diperankan oleh Emilio Buale Coka dan Miharu yang diperankan oleh Alexandra Masangkay.
Melalui Goreng yang dipertemukan dengan tokoh-tokoh lain, dapat diambil kesimpulan bahwa Trimagasi menggambarkan seorang individualistis yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Tidak peduli berada di lantai atas atau pun di lantai bawah, ia akan tetap mementingkan perutnya agar tetap terisi. Sedangkan Imougiri menggambarkan seorang altruistis yang mendahulukan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Imougiri percaya, kelak para penghuni akan mempunyai rasa solidaritas yang tinggi dan dengan sendirinya mau berbagi makanan dengan penghuni lain yang berada di lantai bawah. Sampai akhirnya, Goreng berada di lantai 8 bersama dengan Baharat. Mereka mempunyai gagasan untuk membagi-bagikan jatah makanan agar penghuni di lantai bawah dapat menikmati jatah makanan. Mereka pun melancarkan aksinya dengan menguasai platform yang berisi makanan, melindungi, dan memberikan pesan untuk tidak memakan jatah makanan terlalu banyak, meskipun dengan mengorbankan tenaga untuk melawan penghuni lain yang tidak mau menuruti kata mereka. Saya sangat tidak menyarankan menonton film ini sambil makan, apalagi makan nasi padang atau rendang. 😅
Babak awal film cukup intens dan menarik untuk disimak, hanya saja terdapat beberapa detail penting yang tidak ada atau mungkin sengaja dihilangkan. Tanpa ba bi bu berkepanjangan, cerita mulai terkesan dipercepat pada saat memasuki babak seperempat akhir. Pada saat Goreng dan Baharat menuruni lantai menggunakan platform, mereka bertemu dengan Sr. Brambang “si Bijak” yang memberikan pesan kepada Goreng dan Baharat agar menjaga Pana Cotta, karena itu adalah sebuah pesan. Siapa si bijak dan mengapa dia bisa tahu itu pun tidak dijelaskan lebih detail. “Jalan tol” lain yang digunakan untuk mempersingkat jalan cerita adalah melalui Goreng yang jatuh pingsan dan bermimpi bahwa gadis kecil yang mereka temukan di lantai 333 adalah “pesan” bukan Pana Cotta sebagaimana yang disampaikan oleh si Bijak sebelumnya. Akhirnya Goreng membawa gadis itu bersamanya ketika platform tiba. Sampai di dasar lubang, Goreng mertemu lagi dengan Trimagasi, yang mengatakan kepadanya bahwa “pesan itu tidak memerlukan pembawa.” Sehingga Goreng turun dari platform dan berjalan meninggalkan gadis itu sendirian. Goreng dan Trimagasi pun berbalik, menyaksikan gadis itu naik bersamaan dengan platform.
Akhir cerita dalam film ini pun “sangat tidak terduga”, “agak menggantung” dan menurut saya terkesan “memaksakan”. Namun setelah mencari artikel tentang “ending explaination” dan adanya penjelasan sang Sutradara yang mengatakan, pesan utama film ini adalah “umat manusia harus bergerak menuju distribusi kekayaan yang adil”, saya baru memahami bahwa gadis tersebut adalah bentuk personifikasi dari sikap humanis yang diharapkan mampu membawa perubahan pada sistem kapitalisme dan sosialis yang selama ini tidak memperhatikan hak asasi manusia. Cerita tidak dilanjutkan sampai diterima atau tidaknya pesan itu oleh “yang di atas”, karena mungkin bersikap humanis pun masih merupakan hipotesa dan asumsi semata, apakah dengan manusia bersikap humanis berhasil mengubah sistem kapitalis/sosialis atau tidak.
Over all, saya menikmati dan menyukai premis yang diangkat menjadi cerita dalam film ini. Ditambah dengan scoring garapan Aranzazu Calleja yang sukses menambah ketegangan dan menjadikan film ini semakin seru untuk ditonton. Ketika mendengarkan scoringnya, saya membayangkan suara-suara tersebut berasal dari orang-orang yang menderita, yang memukul-mukul alat makannya sebagai tanda bahwa mereka tengah kelaparan hebat akibat sistem yang tidak pernah berpihak kepada mereka. Berikut adalah scoring yang saya maksud.😃


1xBet Review & Overview | Overview, Bonuses, Features
1xBet offers a generous welcome package 이천 출장샵 that 서산 출장안마 covers many different markets 성남 출장샵 from 서울특별 출장마사지 traditional betting markets. It offers a range of markets such 1xbet korean as