Senandika Wanodya #1: Si Sulung Perempuan

Prolog

Sebagaimana judulnya, senandika /sênandika/
adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di
dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin
yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang
diperlukan pembaca atau pendengar[1].
Sedangkan wanodya sendiri memiliki arti gadis remaja[2].
Kesimpulannya adalah apa yang aku tulis di sini adalah murni apa yang aku
pikirkan dan ingin aku ungkapkan sebagai seorang perempuan. Aku pikir, dengan
menulis akan membuat aku merasa lebih baik karena ini bagian dari penerapan metode
terapi self-healing. Dan disinilah aku meninggalkan jejak pertamaku ……

Don’t lose who you are, in the blur of the stars
Seeing is deceiving, dreaming is believing,
It’s okay not to be okay – Jessie J

Mereka bilang, anak sulung, apalagi perempuan,
bahunya harus sekuat baja, hatinya harus setegar karang. Ya, aku anak sulung
dan aku perempuan. Semesta seolah menuntutku menjadi seorang yang sempurna
untuk semesta kecilku yang aku sebut keluarga. Berat sekali rasanya … Entah itu
karena aku terlahir sebagai perempuan atau anak sulung. Namun, belakangan ini jawaban
atas kebingunganku mengerucut pada suatu kesimpulan bahwa hidupku akan jauh
lebih mudah apabila aku terlahir sebagai laki-laki.
Ibuku adalah seorang feminis meski dia tidak
pernah mendeklarasikan dirinya demikian. Dia juga seorang anak sulung perempuan.
Meskipun hanya lulusan sekolah menegah pertama, Ibuku adalah seorang yang cerdas
dan selalu juara kelas. Sayang sekali, hanya karena ibuku perempuan, Kakek
tidak mengizinkannya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Nasib
membawa Ibuku menjadi buruh pabrik di ibu kota dan kini menjadikannya ibu rumah
tangga yang merawat seorang suami dan dua orang anak. Sesekali membuka jasa sebagai
tukang jahit untuk membantu perekonomian keluarga.
Pernah suatu ketika, aku tak sengaja mendengar
percakapan ibuku dengan seorang lelaki, teman sekelasnya semasa SMP. Dengan
nada arogan dia berkata, “Mbak… Mbak… Sekolahmu dulu pinter, nggak pernah
nggak ranking, sekarang cuman jadi penjahit. Aku yang pernah nggak
naik kelas aja sekarang jadi polisi. Emang nggak perlulah sekolah
pintar-pintar itu, yang penting akhirnya ‘jadi orang’.” Ibuku hanya tertawa. Entah
itu menertawakan nasibnya sendiri atau kebodohan laki-laki itu. Ibu paham betul,
laki-laki itu lebih beruntung karena punya lebih banyak uang saja. Yang aku
tahu pasti, ibuku tidak marah apalagi mempermasalahkan itu.
Awalnya, aku memang tidak mempermasalahkan
diriku sebagai perempuan. Sampai pada suatu ketika, aku hampir ditimpa nasib yang
serupa dengan ibuku. Semua berawal dari rencanaku untuk menempuh pendidikan tinggi
di ibu kota. Bapak tidak menyetujui rencanaku, ia berkata “buat apa sekolah
jauh-jauh, apalagi sekolah hukum, kamu itu perempuan, bapak nggak yakin
kamu akan kuat”. Karena memang cita-cita Bapak sebetulnya sederhana, yakni melihat
anaknya menjadi pegawai bank atau pegawai negeri dan lekas menghasilkan uang
sendiri.
Itu adalah kali pertama Bapak mematahkan hati
dan semangatku hanya karena aku perempuan. Memangnya kenapa kalau aku
perempuan? Berontakku dalam hati. Ibu diam-diam mendukung rencanaku. Ibu
membantuku bangkit dari patah hati, menyemangatiku kembali, dan tak pernah luput
menyebut namaku selepas menghadap yang Esa. Ibu bilang, “Kamu harus mengejar
cita-citamu. Jangan sampai kamu seperti Ibu. Dulu Ibu tidak punya “jalan” untuk
menggapai cita-cita Ibu. Ibu yakin, walau kamu hanya seorang anak si tukang
jahit, kamu mampu membuktikan ke semua orang kalau kamu mampu”. Belakangan aku
baru tahu Ibu gemar membanggakan aku di depan orang lain karena anaknya berhasil diterima
di sekolah hukum ternama ibu kota. Sejujurnya aku agak terganggu dengan sikap ibu yang demikian. Entah memang karena aku anak yang
membanggakan atau itu hanya ekspresi Ibu yang egonya terpuaskan.
Singkatnya, aku merasa, bagiku menjadi anak perempuan
sulung itu berat. Aku lelah. Aku ingin rehat dari segala yang menuntutku untuk menjadi sempurna, tapi di sisi lain aku dituntut pula untuk menerima ketidaksempurnaan orang tuaku yang mendidikku secara
trial and error. Aku terbebani ekspektasi orang tua yang berpikir bahwa
aku akan menghasilkan uang untuk mereka selepas lulus kuliah. Aku merasa
terbebani atas ekspektasi orang lain yang menudingku tentang apa yang akan terjadi
ketika aku menikah kelak. Seolah-olah, mereka sudah mempersiapkan segala macam
amunisi untuk menyerangku dengan perkataan menyakitkan seperti apa yang diperbuat
kepada Ibuku. Yang aku punya hanya dua tangan. Boleh jadi aku menutup telingaku
jika aku tidak mampu menutup mulut mereka.



Here’s the song for me and everybody who’s hurt inside.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *