Mata yang Enak Dipandang: Kompilasi Kisah Ironi Kaum Termarjinalkan

My rating: 4 of 5 stars


Membaca cerpen-cerpen karya Ahmad Tohari dalam buku ini seperti membaca kompilasi kisah ironi kaum termarjinalkan. Saya merasa disuguhkan kisah-kisah masyarakat pinggiran yang seringkali dijadikan objek evaluasi diri agar lebih mensyukuri hidup. Sulit bagi saya untuk tidak berpikir demikian, karena sejak kecil diajarkan untuk “mensyukuri hidup setelah melihat keadaan orang lain yang tidak lebih beruntung dari pada diri sendiri”. Sejujurnya saya sedang belajar untuk mengubah pola pikir saya yang satu ini.

Bagi saya, kumpulan cerpen dalam buku ini menyenangkan untuk dibaca karena Ahmad Tohari konsisten menggunakan gaya penulisan yang sederhana yang sarat akan makna. Hampir semua cerpen di dalam buku ini saya suka, tapi salah satu yang paling saya suka adalah yang berjudul “Penipu Keempat”. Mindblown!!!!

Namun apa jadinya bila orang Cikokol itu tahu bahwa ada penipu lain yang jauh lebih pandai, yakni dia yang hari ini memberi uang 14.000 kepada tiga penipu teri. Dengan 14.000 dia berharap Tuhan bisa tertipu lalu memberkahinya uang, tak peduli dengan cara apa uang itu didapat. Dan aku yakin hanya penipu sejati yang bisa sangat menyadari akan penipuannya. (Hal.38)



View all my reviews

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *