Give me a moment, would you, Friend? I’ve never been on trial for my thoughts before
– Abbie Hoffman
Kriminalisasi terhadap aktivis, rekayasa untuk mengadili mereka, serta konspirasi yang turut serta membuntutinya adalah hal yang sudah bukan lagi omong kosong bagi sebagian masyarakat. Ketiga hal itu dibungkus dengan menarik oleh Aaron Sorkin dalam karyanya yang berjudul The Trial of the Chicago 7.
Diangkat dari peristiwa bersejarah yang berlatar belakang hukum, sosial, dan politik di Amerika, kisah ini bercerita tentang proses persidangan pasca aksi unjuk rasa “anti-Vietnam War” pada Agustus 1968 yang dilakukan secara serentak oleh tiga kelompok berbeda, yakni Yippies (The Party International Youth) yang dipimpin oleh Abbie Hoffman dan Jerry Rubin; SDS (Students for a Democratic Society) yang dipimpin oleh Tom Hayden dan Rennie Davis; David Dellinger ketua MOBE (Mobilization Committee to End the War in Vietnam), John Froines, Lee Winer, dan Bobby Seale.
Di luar skenario yang telah direncanakan, ternyata unjuk rasa tersebut mengakibatkan bentrok antara masyarakat dan aparat, kerusuhan pun tidak dapat dihindari lagi. Dianggap sebagai dalang kerusuhan, aktivis-aktivis tersebut kemudian ditangkap, diperiksa, dan diadili dalam persidangan yang sama.
Atas kerusuhan tersebut, John Mitchell, Jaksa Agung Federal yang baru, bermaksud mengajukannya ke meja persidangan, menjerat aktivis-aktivis tersebut dengan ganjaran yang tegas, tidak hanya divonis bersalah telah merusak fasilitas umum, melainkan pelanggaran dengan ancaman yang lebih berat, yakni konspirasi lintas batas negara bagian untuk menciptakaan kerusuhan/kekerasan sebagaimana diatur dalam Civil Obedience Act of 1968. Untuk itu, Mitchell menunjuk Richard Schultz dan Thomas Foran sebagai penuntut umum dalam menangani perkara tersebut.
Kasus kerusuhan ini pun kemudian diajukan ke muka Pengadilan Illinois, Chicago, dengan nomor register 69 CR 180: United States of America vs David T. Dellinger dkk yang diwakili oleh dua kuasa hukumnya, William Kunstler dan Leonard Weinglass.
Sebagai hakim yang menangani kasus ini, Julius Hoffman kerap menunjukkan keberpihakannya dan penuh prasangka. Salah satunya dengan sikapnya terhadap Seale, satu-satunya terdakwa yang berkulit hitam, yang tiba-tiba saja turut digabungkan pada persidangan yang sama dengan 7 terdakwa lainnya. Sialnya, Seale tidak mendapatkan pendampingan hukum karena kuasa hukumnya berhalangan hadir, namun hal tersebut tidak membuat persidangannya ditunda.
Merasa dirinya tidak diperlakukan dengan adil dan Seale pikir kehadirannya hanya akan memperberat 7 terdakwa lain, karena pasal yang didakwaan kepadanya tidak hanya sebagai dalang kerusuhan, tapi juga membunuh aparat. Seale selalu menunjukkan sikap protesnya kepada Hakim dengan meminta supaya dia tidak diadili secara bersama-sama, paling tidak ditunda sampai dengan kuasa hukumnya dapat hadir kembali.
Muak dengan sikap Seale, atas nama “penghinaan terhadap persidangan” Hakim Hoffman memerintahkan kepada petugas agar Seale diikat dan dibekap pada saat menghadiri persidangannya sendiri. Sampai pada akhirnya, Jaksa Schultz dan Kuasa Hukum Kunstler yang berpikir bahwa ini bukan lagi persidangan yang beradab, meminta kepada Hakim agar Seale tidak diperlakukan demikian dan disidangkan secara terpisah. Permohonan tersebut pun dikabulkan.
Dalam proses pemeriksaan saksi, banyak sekali fakta mengejutkan bahwa ada banyak polisi dan agen FBI yang menyamar sebagai penguntit aktivis bahkan demonstran. Hal ini mengakibatkan pergerakan mereka terbaca oleh aparat kepolisian. Bahkan kehadiran Ramsey Clark, Jaksa Agung Federal yang menjabat pada saat terjadinya kerusuhan, sebagai saksi kunci kasus kerusuhan ini menunjukkan fakta bahwa justru aparat kepolisianlah yang terbukti memicu kerusuhan, bukan demonstran. Sayangnya, kesaksian Clark kemungkinaan besar tidak dipertimbangkan oleh juri karena Hakim Hoffman tidak mengizinakan juri untuk mendengar kesaksian Clark.
Menjelang sidang akhir, Tom Hayden, sebagai salah satu terdakwa yang dianggap selalu menghormati persidangan oleh Hakim, dipersilakan mewakili 6 terdakwa lainnya untuk memberikan pembelaan. Hakim memberi jaminan bahwa apabila Hayden tetap menujukkan sikap hormatnya kepada persidangan, yakni dengan memberikan pembelaan yang singkat, langsung ke inti, dan sopan, maka ia akan mendapatkan keringanan hukuman. Tak disangka, Hayden justru membacakan daftar nama (yang dibuat oleh Rennie Davis) berisi nama-nama 4.500 tentara Amerika yang mati karena berperang melawan Vietnam. Sontak hadirin di persidangan berdiri dan bersorak, dan membuat Hoffman semakin muak. Namun Hayden tetap melanjutkan membaca nama-nama dalam daftar tersebut.
![]() |
|
Sumber: https://www.townandcountrymag.com/leisure/arts-and-culture/a34361792/the-trial-of-the-chicago-7-1968-democratic-convention-true-story
|
Meskipun ada beberapa bagian yang sedikit didramatisir, seperti pada ending scene dimana Hayden membacakan daftar nama tersebut, film ini tetap membuat saya bergeming, terharu, emosi. Tak habis pikir, lembaga yang (katanya) diadakan untuk mencari keadilan justru membuat segala sesuatunya tampak kabur dan menjadi demikian tidak adil.
Hal ini mengingatkan pada beberapa peristiwa aksi damai para demonstran di Indonesia yang justru kerap berakhir dengan kerusuhan. Saya jadi skeptis, apakah kerusuhan itu murni dipicu oleh para demontran atau bukan. Bahkan yang menyedihkan, sampai saat ini pun kebanyakan penyedilikan atas kasus-kasus kerusuhan tersebut tidak sepenuhnya transparan dan rutin dilaporkan ke publik. Sampai pada akhirnya publik lupa dengan sendirinya, atau sengaja melupakan begitu saja karena sudah muak dengan sandiwara mereka.
Skeptisisme saya justru semakin menguat setelah pihak yang berwajib mengumumkan bahwa peristiwa kebakaran gedung kejaksaan agung Indonesia beberapa bulan lalu diakibatkan oleh puntung rokok petugas kebersihan. Harapan untuk menemukan sosok seperti Ramsey Clark seolah lenyap begitu saja sebagaimana lenyapnya banyak aktivis, simpatisan, atau demonstran secara tiba-tiba. Kalaupun ada, mungkin yang tersisa hanya raganya, bukan lagi idealismenya.


