Playing fair is a joke invented by rich people to keep the rest of us poor.
– Marla Grayson –
I Care a Lot adalah Film Amerika yang bergenre dark-comedy thriller yang ditulis dan disutradari oleh J Blakeson. Dibintangi oleh actor papan atas, Rosamund Pike sebagai Marla Grayson, Peter Dinklage sebagai Roman Lunyov, Dianne Wiest sebagai Jennifer Peterson. Film ini dapat dinikmati di platform streaming film kesayangan kita, Netflix mulai 19 Februari 2021.
Berangkat dari kepedulian semu terhadap orang lanjut usia khusus yang tajir aja dan didukung dengan adanya doktrin tentang parens patriae, Marla Grayson memutuskan untuk menggeluti dunia bisnis “pengasuhan lansia” sekaligus sebagai pengampu/guardian mereka.
Sebelum memulai pembahasan lebih jauh tentang film ini, mungkin ada baiknya ada “pemanasan dulu” dengan membahas dua istilah tersebut.
Dalam dunia hukum, dikenal istilah pengampuan atau curatele. Istilah tersebut mengacu pada kondisi di mana seseorang dianggap tidak cakap untuk bertindak secara hukum, baik itu karena kondisi mental atau pun fisiknya, sehingga mengharuskannya untuk ditaruh di bawah pengawasan orang lain yang dianggap lebih cakap secara hukum. Di Indonesia sendiri, pengaturan mengenai pengampuan diatur di dalam Pasal 433 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Sementara itu, parens patriae merupakan istilah latin yang berarti “parent of his or her country“. Black’s Law Dictionary mendefinisikannya sebagai “the state in its capacity as provider of protection to those unable to care for themselves.” [Black’s Law Dictionary, supra note 31, at 1221]. Sederhananya, dalam rangka melindungi kaum rentan tersebut, negara dapat melakukan intervensi melalui suatu perintah pengadilan.
Di balik topeng altruistiknya, Marla Grayson justru memanfaatkan kerentanan lansia tajir untuk dapat menguras habis seluruh kekayaan mereka dengan cara melelang dan menjual aset, kemudian diakuinya sebagai biaya perawatan. Sementara lansia tajir yang sudah menjadi “client-nya” berdasarkan perintah pengadilan, ditempatkan secara paksa di panti wreda Berkshire Oaks tanpa boleh berkomunikasi dengan dunia luar. Begitu rapihnya business plan Marla, Hakim sampai beberapa kali terkelabuhi, walaupun sempat ada gugatan/protes dari pihak keluarga lansia yang sudah mengetahui bisnis kotor Marla.
Melalui konspirasinya dengan Dr. Karen Amos (ahli kejiwaan), Marla lagi-lagi diberikan kesempatan untuk mengampu seorang yang kaya raya, tanpa keluarga, suami, atau pun anak, bernama Jennifer Peterson. Ternyata… e… ternyata…. Ms. Peterson bukanlah orang biasa sebagaimana perkiraan Marla. Ia adalah ibu seorang gangster kelas kakap asal Rusia bernama Roman Lunyov. Sementara, Ms. Peterson bukanlah Ms. Peterson sendiri. Dia menyembunyikan identitas aslinya dan menggunakan identitas Ms. Peterson yang ternyata telah meninggal puluhan tahun yang lalu. Kejadian ini sontak membuat Roman murka dan mencari cara untuk membebaskan ibunya, tentu saja dengan cara sembunyi-sembunyi dan mengerahkan semua pionnya.
Menurut opini pribadi saya, film ini lebih condong bergenre action dari pada dark-comedy karena saya tidak menemukan sisi lucunya, malah tegang terus. Lol. Entah karena level humor saya yang “terlampau jongkok” atau memang saya tidak bisa membedakan lelucon dan mana yang serius. Walaupun saya tidak mampu menemukan sisi humornya, film berdurasi 118 menit ini cukup intens dan menarik untuk ditonton karena plot-nya yang rapih dan menegangkan. Selain karena dialog yang digunakan quotable dan sangat “mengena”,penataan visual dan scoring yang disuguhkan kepada penonton rasanya sangat memanjakan mata dan telinga.
Yang masih tak habis pikir, bagaimana bisa rahasia kotor Marla tidak sampai tercium oleh pihak yang berwajib. Apakah memang tidak ada laporan realisasi, auditing eksternal, inspeksi dadakan dari instansi terkait? Belum lagi keterbatasan porsi penceritaan komplotan gangster Rusia yang mencoba mengobrak-abrik hidupnya. Tidak ada penjelasan lebih jauh tentang bagaimana Roman Lunyov bisa menjadi seorang gangster, memanipulasi kematiannya sendiri, dan cara ia memperoleh berlian langka yang harganya sangat tinggi. Belum lagi masa muda Jennifer Peterson, sampai pada akhirnya dia menjadi kaya raya dengan mencuri identitas orang lain. Padahal saya sudah sangat menanti, teknologi macam apa yang digunakan oleh komplotan tersebut, sehingga bisa mengelabuhi semesta dengan segala kecanggihannya ini.
Terlepas dari hal itu, saya menyukai film ini karena mengangkat cerita yang tidak biasa (bisnis panti wreda khusus lansia tajir) dan menurut saya adalah tidak bijak jika melampiaskan kekecewaan karena tidak terpenuhinya ekspektasi dengan cara mengulas karya seseorang dengan penuh kekesalan. Bukan salah sutradaranya dong. Suka-suka dia mau nulis plotnya gimana. Intinya film ini bisa dijadikan opsi menghabiskan libur akhir pekan sekaligus belajar hukum perdata. Hihi.