Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa: Bukan Berarti Pasrah Menjadi Manusia Nirfaedah


My rating: 4 of 5 stars

Dengan mengangkat problem dilematis yang dekat dengan kehidupan muda-mudi masa kini serta gaya penyampaian yang tidak mendikte, rasanya saya seperti mendengar Alvi mencurahkan hatinya kepada saya, kemudian saya aminkan karena merasa senasib sepenanggungan. I can say this book is the perfect companion for someone who is learning to accept themselves, khususnya bagi teman-teman yang memasuki atau sudah dalam fase quarter life crisis. Meskipun demikian, saya tidak serta-merta dapat menjamin buku ini akan applicable untuk sebagian orang lain.

Dari sekian banyak bab, terdapat salah dua bab yang paling menyadarkan saya bagaimana harus bersikap, atau menyikapi hidup. Dari dua tulisan itu, saya belajar untuk meregangkan pundak dan melepaskan segala sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan. Bisa jadi beban yang saya rasakan selama ini hanyalah sebuah konstruksi dari interpretasi dan asumsi-asumsi yang saya bangun sendiri. Bahwa saya hanya harus merasa cukup menjadi saya dan memulai hari menjadi manusia baru setiap harinya, tanpa harus memenuhi setiap ekspektasi yang akhirnya menjadi suatu social pressure yang menghantui.

Secara pribadi, saya tidak menyarankan buku ini untuk dihabiskan dalam sekali duduk karena terdapat beberapa part yang berulang-ulang, sehingga tampak seperti lagu lama yang diputar berulang. Misalnya seperti pembahasan mengenai kesuksesan orang-orang besar seperti pemilik Apple, Amazon, dll.

Terakhir, saya sampaikan terima kasih kepada Alvi yang sudah berani membuka dan belajar dari luka lama, sembari merangkum kisah hidupnya untuk dibagikan kepada orang-orang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *