Anak Semua Bangsa: Pencarian Jati Diri Seorang Bayi Semua Bangsa dari Segala Zaman


Jika buku pertama dari tetralogi ini-Bumi Manusia-sudah begitu impresif, buku kedua-Anak Semua Bangsa-menurut saya pribadi sangat-sangat jauh lebih impresif dari buku sebelumnya. Pada Bumi Manusia, Minke berada pada periode penyemaian dan kegelisahan sebagai priyayi yang berusaha keluar dari gelembung kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka dengan berkiblat pada keeropaan yang menjadi simbol dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Sementara itu, Anak Semua Bangsa adalah periode pengamatan Minke dari mercusuar ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman terjun langsung ke lapangan. Berbeda dengan Bumi Manusia yang masih berkutat dengan romansa dan idealisme Minke terhadap keagungan dan kegagahan bangsa Eropa, dalam Anak Semua Bangsa, pemahaman Minke mulai diputarbalikkan dan bergeser ke arah lain. Pada titik ini pula Minke diperlihatkan kehidupan akar rumput pribumi yang kerdil dan tak berdaya terinjak-injak kekuasaan kolonial.

Dibuka dengan kelanjutan perjalanan hidup Minke dan Nyai Ontosoroh pasca dikalahkan di pengadilan dalam memperebutkan status Annelies, Minke yang semula mengagumi Eropa tanpa cela, mulai mengalami pergeseran pandangan bahwa Eropa, khususnya Kolonial Belanda, tak jauh busuknya dengan nenek moyangnya, raja-raja Jawa yang kejam dan korup terhadap rakyatnya. Dalam perjalanannya melanjutkan hidup, Minke dipertemukan dengan banyak teman-teman yang menginspirasi dan memengaruhi jalan pikirannya. Mulai dari Kommer, penulis dan pemerhati kehidupan Pribumi; Khouw Ah Soe, seorang nasionalis Tiongkok; Keluarga Trunodongso, petani yang berani menolak tanahnya disewakan secara paksa kepada perusahaan gula milik kolonial; Keluarga Sastro Kassier yang kepalang mujur menghadapi kegilaan Plikemboh. Kemudian ditutup dengan kepergian Annelies untuk selamanya yang kisahnya jauh lebih pilu dan menguras air mata pada bab-bab terakhirnya. Semua itu tidak lain adalah kisah pencarian jati diri seorang Minke sebagai tokoh utama.

Meskipun buku ini bergenre fiksi, satu hal yang membuat saya terkesan dan tidak ragu mengatakan jatuh cinta pada tulisan-tulisan Pram adalah bagaimana cara beliau menarasikan cerita dengan menyelipkan informasi-infomasi sejarah. Hal ini melengkapi informasi sejarah bangsa Indonesia yang tidak seutuhnya terekam dalam buku pelajaran di bangku sekolah. Sekali lagi saya katakan, menurut saya pribadi, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada belajar mengenali dan mencintai bangsa sendiri dengan membaca karya-karya beliau.


View all my reviews

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *