Membaca ulang sebuah buku yang pernah dibaca pada masa kanak-kanak, rasanya seperti bertemu kembali dengan kawan lama. Bersama dengan kisah yang masih sama ketika pertama kali membacanya, novel Pangeran Cilik seolah-olah memberi impresi nostalgia. Novel yang mengingatkan kembali bagaimana menjadi anak kecil dan mengiranya sebagai bacaan sederhana yang ringan saja.
Berpetualang Bersama sang Pangeran Cilik
Pangeran Cilik merupakan terjemahan dari novel berbahasa Prancis, Le Petit Prince, yang pertama kali terbit pada 1943. Karya sastra Antoine de Saint-Exupéry ini menceritakan perjalanan seorang anak kecil yang menjelajahi alam semesta untuk menemukan suatu kebijaksanaan. Dalam perjalanannya, ia justru berjumpa dengan berbagai makhluk dengan sifat-sifat yang tak terduga.
Cerita bermula ketika narator yang merupakan seorang pilot pesawat terbang tengah mengalami kerusakan pada mesinnya sehingga membuatnya jatuh dan terdampar di Gurun Sahara. Baginya ini adalah persoalan hidup atau mati karena ia berada jauh dari permukiman manusia, sementara perbekalan air minum yang ia bawa hanya cukup barang seminggu. Suatu hari muncul di hadapannya seorang anak kecil yang berpenampilan aneh. Lebih anehnya lagi, ia entah muncul dari mana dan tidak tampak seperti seorang yang tersesat. Dialah Pangeran Cilik. Alih-alih merasa takut, dia justru meminta pilot tersebut untuk menggambarkannya seekor domba.
Hari-hari berikutnya, Pangeran Cilik mulai bercerita tentang hidupnya. Di planet asalnya yang tidak lebih besar dari sebuah rumah, ia menghabiskan waktunya untuk mencabuti bibit baobab agar tidak bertambah besar dan melahap planet kecil itu. Suatu hari muncul sebuah tanaman, bukan pohon baobab melainkan setangkai mawar. Dia pun mencintainya dengan sepenuh hati. Namun, kesombongan dan tuntutan mawar tersebut menjadi terlalu berat baginya. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan planet kecilnya. Keputusannya tersebut mempertemukannya dengan berbagai makhluk penghuni planet-planet lain tempat ia bersinggah, mulai dari raja hingga ular berbisa. Enam tahun kemudian pilot mengatakan bahwa tubuh Pangeran Cilik telah menghilang pada suatu pagi. Pilot tahu Pangeran Cilik telah kembali ke planetnya.
Apakah ini Kisah Untuk Anak Kecil?
Kisah ini tampak seperti cerita anak-anak pada umumnya. Namun, di sisi lain juga menyimpan kebijaksanaan untuk direnungkan. Melalui cerita yang imajinatif, Saint-Exupéry tampaknya ingin menyampaikan kritik sosial melalui filosofi hidup yang penyampa secara sederhana. Ia menyentuh pembacanya melalui pengalaman manusia yang paling dasar berdasarkan sudut pandang seorang anak kecil yang masih memandang dunia dengan kepolosannya.
Kisah Pangeran Cilik dan Refleksi Inner-Child dalam Diri
Setelah memberanikan diri untuk membaca kembali novel ini di usia yang menginjak 26 tahun, belakangan saya baru tersadar bahwa buku ini ternyata tidak sesederhana itu. Saya pun tercenung. Entah mengapa, novel ini pada akhirnya membawa saya pada pemahaman bahwa pilot dan Pangeran Cilik merupakan satu orang yang sama di dua tubuh yang berbeda. Pilot mewakili sosok manusia dewasa dengan pemikiran rumitnya, sementara Pangeran Cilik mewakili sosok anak kecil lugu yang melekat pada diri setiap orang yang telah dewasa. Novel tersebut seakan-akan mengingatkan pembaca pada konsep inner child yang keberadaannya sering terabaikan oleh orang dewasa. Padahal keberadaannya mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan dan berhadapan dengan masalah. Sebagaimana narator yang bertemu dengan Pangeran Cilik tanpa sengaja, saya pun larut dalam imaji seakan-akan juga dipertemukan dengan diri saya sendiri 16 tahun yang lalu.
