Identitas Buku
Sinopsis
Lebih dari sekadar buku bertema keuangan, The Psychology of Money tidak mengajarkan cara sukses mengelola uang dengan metode taktis matematis. Melainkan tentang bagaimana seseorang berperilaku dan tidak ada hubungannya dengan ukuran kecerdasan formal. Melalui 20 cerita yang saling berkaitan, Morgan Housel menuturkan kisah orang-orang masyhur di bidang bisnis dan keuangan. Kemudian mengeksplorasi bagaimana cara-cara unik mereka berpikir tentang uang. Dengan mengangkat topik-topik yang fundamental serta berangkat dari sudut pandang yang sering kali luput dari perhatian, buku ini menawarkan pemahaman finansial yang sederhana dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ulasan
Semakin tingginya biaya hidup sering kali membuat kita berpikir bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak ingin menjadi kaya. Tunggu dulu. Kebanyakan dari kita terlalu cepat menghakimi tanpa memahami terlebih dahulu bahwa apa yang tampak gila bagi seseorang boleh jadi masuk akal bagi orang lain. Sebagaimana pembahasan di Bab 1, kita semua membuat keputusan finansial berdasarkan pengalaman unik masing-masing yang tampak masuk akal bagi kita pada saat tertentu. Akibatnya, setiap orang akan meyakini nilai yang berbeda-beda mengenai cara kerja uang. Berangkat dari sisi psikologis inilah, penulis mengajak pembacanya untuk memahami bahwa uang bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga soal emosi, perilaku, dan kebiasaan.
Rich vs Wealthy
Tanpa sadar, kita terbiasa menganggap bahwa mempunyai uang sama dengan membelanjakan uang. Oleh karenanya kita tidak melihat pentingnya kemampuan menahan diri untuk benar-benar memiliki kekayaan. Hal ini terjadi karena kita terlalu cepat silau dengan gemerlap kekayaan yang tampak mata. Kita pun luput membedakan antara rich dengan wealthy yang meskipun serupa, tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda. Rich merujuk pada pendapatan sekarang, sementara wealthy adalah pendapatan yang tidak dibelanjakan dan memberikan opsi untuk membeli sesuatu kelak. Sederhananya, kekayaan yang dimaksud di sini bersifat tak terlihat, seperti tabungan, dana pensiun, atau portofolio investasi.
Apa itu Kekayaan Hakiki?
Sebagaimana pada Bab 5 dan 8, kekayaan tersembunyi inilah yang penulis sebut sebagai kekayaan hakiki. Oleh karena nilainya terletak pada pemberian opsi, keluwesan, dan pertumbuhan agar kelak bisa membeli lebih banyak hal daripada yang dapat dibeli sekarang. Itulah mengapa membelanjakan uang untuk memamerkan betapa banyak uang yang kita miliki merupakan cara tercepat agar kita memiliki lebih sedikit uang. Jika definisi kekayaan adalah tidak membelanjakan uang yang kita miliki, lantas untuk apa kita memiliki kekayaan? Betul, untuk mencapai financial freedom atau kemandirian finansial.
Kemandirian finansial merupakan bentuk tertinggi dari kekayaan. Housel mengartikan ini sebagai kemampuan bangun setiap pagi dan berkata, “saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan hari ini”. Saya setuju. Terlebih, ini mirip dengan konsep yang sudah saya kenal sebelumnya, yakni kemandirian untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Praktisnya: dengan tidak menjadikan anak sebagai dana pensiun untuk membiayai hidup di masa mendatang, tidak pula menjadikan orang tua sebagai dana darurat jika ada keperluan mendadak, maupun tidak menjadikan teman sebagai pay later tempat kita bisa meminjam uang dan melunasinya kapan saja.
Menjadi Kaya = Lebih Bahagia?
Bab 7 buku ini menuturkan bahwa banyak orang ingin menjadi lebih kaya agar lebih bahagia. Padahal, kebahagiaan adalah subjek rumit karena setiap orang memiliki standar yang berbeda-beda. Namun, kita sepakat bahwa objek kebahagiaan universal adalah memegang kendali atas hidup sendiri dan setiap orang menginginkannya karena dapat membuat mereka bahagia. Nilai intrinsik terbesar uang adalah kemampuannya memberi kita kendali atas waktu dan hidup. Inilah alasan mengapa orang menyukai uang dan sebaiknya kita menumpuk uang untuk membangun kekayaan.
Membangun kekayaan lebih banyak berhubungan dengan tingkat tabungan daripada pendapatan atau hasil investasi. Bab 10 pada buku ini membahas tentang menabung dengan cara yang masuk akal, alih-alih rasional. Berbeda dengan keuangan akademis yang bertujuan untuk mengoptimalkan strategi investasi secara matematis, seorang biasa cukup memerlukan strategi yang sederhana. Sesederhana hal yang dapat membuatnya tidur nyenyak di malam hari, misalnya “meminimalkan penyesalan masa depan”. Memang hal tersebut sukar dirasionalkan di atas kertas, tetapi mudah dibenarkan di kehidupan nyata.
Highlight Buku
Kelebihan: Pendekatan filosofis dengan bahasa yang sederhana dan topik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, membuat buku ini mudah dipahami dan semakin menarik untuk dibaca . Ini merupakan kelebihan buku selain memberikan pelajaran universal tentang kekayaan, ketamakan, dan kebahagiaan yang relevan sepanjang masa.
Kekurangan: Manusia pada dasarnya belajar dengan cara meniru, sementara kekayaan hakiki yang tak terlihat membuat manusia sukar untuk mempelajarinya. Penulis menyadari akan hal ini, tetapi tidak memberikan pembahasan yang lebih jauh tentang kepada siapa kita belajar dan bagaimana cara mempelajari kekayaan hakiki itu sendiri. Pembahasan yang umum inilah yang membuat sebagian besar topik dalam buku ini menjadi relevan, tetapi juga sukar untuk dipraktikkan tanpa riset sendiri lebih lanjut.
Kesimpulan
Membaca buku The Psychology of Money adalah sebuah perjalanan yang membuka wawasan baru tentang pengelolaan keuangan. Dalam hal ini, mencapai kemandirian finansial dari perspektif psikologi. Alih-alih kekayaan harta yang kasat mata, konsep kekayaan hakiki yang menjadi ‘core’ kemandirian finansial di buku ini lebih dapat memberikan kebahagiaan yang abadi daripada kekayaan harta yang berlandaskan ketamakan.
Menurut Morgan Housel, untuk mencapai hal tersebut tidak harus menggunakan perhitungan matematis. Oleh karena sebagian besar keberhasilannya bergantung pada kebiasaan dan perilaku kita. Untuk itu, buku yang padat gizi ini cocok untuk mereka yang ingin mendapatkan perspektif baru terkait keuangan. Terlepas dari apa pun latar belakang dan profesinya, bahkan oleh orang awam sekalipun. The Psychology of Money beberapa kali menampar saya dengan fakta dan kalimat yang menohok. Namun, secara tidak langsung juga memotivasi pembacanya untuk selalu bijak mengelola uang dengan penuh kesadaran, tetap rendah hati, dan mulai melakukan hal-hal kecil dari diri sendiri untuk mencapai kekayaan hakiki.
