Aktivitas Edukatif Selama Liburan ala Kumon untuk Anak 3 Tahun
Elisma Herdinawati | July 24, 2025 | 7 min read
Dilema Ibu dari Anak Usia 3 Tahun: Sudah Siapkah Bersekolah?
Di antara lilin kecil warna-warni dan kue sederhana dengan hiasan bus biru favoritnya itu, aku memandang anakku yang genap berusia tiga tahun. Memang beberapa hari terakhir menjelang ulang tahunnya, ada pertanyaan yang yang menggelayut dalam pikiran, “apakah sudah waktunya dia bersekolah?“. Akhirnya, aku memutuskan untuk memperkenalkan aktivitas edukatif selama liburan untuk anak usia 3 tahun sebagai masa transisi prasekolahnya.
Namun Permasalahannya, bagaimana menilai kesiapan anak untuk menerima pembelajaran dan memanfaatkan liburan untuk membangun kebiasaan belajar pada anak tanpa kesan memaksa? Aku pun tersadar—mungkin yang lebih penting dari pertanyaan “siap atau belum” adalah memastikan bahwa setiap aktivitas bisa menjadi ruang edukasi yang menyenangkan selama liburan. Sebab, bagaimanapun, di usia ini, belajar dan bermain seperti dua mata pisau yang perlu untuk diasah.
Kesiapan Sekolah Dimulai Sebelum Usia Sekolah
Menurut United Nations Children’s Fund (UNICEF), beberapa tahun awal kehidupan merupakan periode kritis untuk stimulasi motorik, kognitif, dan bahasa. Pada periode ini, lebih dari satu juta koneksi saraf terbentuk setiap detik. Selaras dengan hal ini, studi Harvard Center on the Developing Child (2023) juga memaparkan interaksi ‘serve-and-return‘ antara orang tua dengan anak membuktikan bahwa respons konsisten orang tua terhadap eksplorasi anak dapat memperkuat koneksi saraf di otak anak. Oleh karenanya, kualitas pengalaman awal seorang anak sangat menentukan perkembangan otaknya, memberikan fondasi untuk pembelajaran, kesehatan, dan perilaku sepanjang hidupnya.
Liburan = Waktu Emas untuk Belajar dengan Fun
“Simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu!“. Benar, itu adalah penggalan lirik lagu “Libur Telah Tiba”. Walaupun toddler 3 tahun belum kenal apa itu hari libur, tapi anggap saja liburan semester genap ini adalah liburan juga baginya karena anak tetangga jadi lebih sering mampir buat main bareng.
Back to the topic, sebagian orang sering kali menganggap liburan sebagai waktu istirahat total. Padahal, justru inilah momen terbaik untuk mengasah kemampuan anak melalui aktivitas edukasi menyenangkan selama liburan sekolah. Bagi anak 3 tahun, setiap aktivitas harian juga bisa menjadi “kelas” tanpa dinding yang kaya stimulasi. Lantas, aktivitas apa saja yang bisa cegah penurunan kemampuan belajar anak dengan cara yang menyenangkan saat liburan?
Apa itu Aktivitas Edukatif?
Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita kenali dulu konsep dasar aktivitas edukatif yang ternyata lebih dari aktivitas bermain biasa.
Aktivitas edukatif merupakan segala bentuk interaksi yang bertujuan untuk merangsang perkembangan kognitif, motorik, atau sosial-emosional tanpa terkesan formal. Untuk anak usia 3 tahun, setidak-tidaknya perlu memenuhi unsur 3F: Fun (menyenangkan), Familiar (dekat dengan keseharian), dan Foundation (membangun dasar kemampuan esensial).
Kunci utama dari aktivitas edukatif adalah transformasi kegiatan sehari-hari menjadi pengalaman belajar. Momen di mana stimulasi pembelajaran yang terjadi secara alami tanpa tekanan (hidden learning moments). Melalui pendekatan learning through play, aktivitas sehari-hari sekalipun bisa untuk mengasah kemampuan dasar jika dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Lalu, seperti apa konkretnya?
Kenalan Dulu sama Kumon: Fondasi Belajar Mandiri Sejak Usia Dini
Dengan mengadopsi 4 metode penting: belajar pada tingkatan yang ‘tepat’; belajar mendiri; kerja Kumon; dan peran pembimbing; Kumon membuktikan bahwa anak balita bisa mulai dikenalkan konsep belajar menyenangkan tanpa harus masuk sekolah dulu. Inilah salah satu hal yang menjadikan Kumon sebagai wishlist tempat les anakku suatu hari nanti.
Kumon memiliki program untuk anak usia 3 tahun, yaitu ketrampilan memegang pensil sebagai program pelengkap yang mendukung kemampuan untuk menguasai subjek lainnya. Keterampilan tersebut meliputi kemampuan memegang pensil dengan aman dan benar; menggunakan tekanan menulis yang konsisten; belajar menarik berbagai macam garis, dll.
Lembar kerjanya menggunakan desain yang menarik bagi anak usia prasekolah. Pada program ini, Kumon membaginya menjadi level ZI dan ZII dengan 100 lembar kerja pada setiap levelnya. Dengan lembar kerja bertahapnya, Kumon mengajarkanku bahwa kesiapan sekolah bukanlah persoalan siapa yang tercepat mencapai garis finish. Melainkan serangkaian langkah kecil yang konsisten.
1. Tepat Level
Setiap siswa mempunyai tingkat kemampuan akademik yang berbeda-beda. Kumon memastikan siswa selalu mempelajari lembar kerja pada tingkatan yang ‘tepat’ – titik antara materi pelajaran yang terlalu mudah dan terlalu sulit.
2. Belajar Mandiri
Ketika mencapai tingkatan kelas di lembar kerja, siswa belajar sendiri apa yang belum diajarkan di sekolah. Ketika menemukan sesuatu yang baru, siswa mempelajari dan menggunakan materi sebelumnya untuk mencoba mengerjakannya.
3. Lembar Kerja Kumon
Lembar kerja Kumon memungkinkan siswa untuk melakukan pembelajaran secara mandiri. Tingkat kesulitan pada lembar kerja Kumon terus meningkat dari satu lembar kerja ke lembar kerja lainnya.
4. Peran Pembimbing
Pembimbing menggali potensi setiap siswa berdasarkan observasi. Pembimbing kemudian memberikan bimbingan efektif untuk memastikan bahwa siswa selalu belajar pada tingkatan yang ‘tepat’.
3 Aktivitas Edukatif ala Kumon untuk Anak Usia 3 Tahun Selama Liburan
Belum banyak orang menyadari bahwa ada aktivitas edukasi menyenangkan selama liburan sekolah. Kumon memegang prinsip bahwa stimulasi dini yang konsisten dan bertahap dapat membangun fondasi belajar yang kuat. Nah, terinspirasi dari metode-metode kumon, berikut 3 kegiatan belajar anak saat liburan untuk anak usia 3 tahun:
1. Treasure Hunt Warna di Sekitar Rumah
Mengajak anak untuk berburu ‘harta karun’ dan mencari benda berwarna tertentu? Bisa banget! Terinspirasi metode Kumon yang mengajak anak belajar melalui eksplorasi mandiri, aktivitas ini juga mengajarkan anak tentang pengenalan warna dasar (merah, kuning, biru, dll.) dan kosa kata baru melalui benda-benda yang ditemukannya.
Orang tua menyiapkan ‘peta harta karun’ yang berisi petunjuk untuk menemukan benda-benda dengan warna tertentu. Kemudian, memberikan instruksi sederhana, misalnya menemukan 3 benda yang warnanya sama. Anak mulai berburu lalu minta anak untuk mengelompokkan benda-benda yang dia temukan sesuai dengan warnanya. Terakhir, memberikan apresiasi supaya anak semangat.
2. Petualangan Angka di Dapur
Siapa sangka, dapur bisa menjadi “kelas matematika” paling menyenangkan untuk anak 3 tahun! Ajak si kecil berpetualang dengan menghitung peralatan makan saat menyiapkan sarapan di meja, mulai dari instruksi sederhana, seperti “Mari hitung 3 sendok!” hingga lebih menantang, seperti “Berapa total garpu dan sendok jika digabung?”.
Agar lebih variatif, orang tua juga bisa memanfaatkan bahan makanan seperti wortel atau potongan buah untuk latihan penjumlahan atau pengurangan dasar. Jangan lupa beri apresiasi dan support pada anak untuk membangun kepercayaan dirinya!
Aktivitas sederhana ini mengajarkan matematika dasar melalui pengalaman nyata, persis seperti metode Kumon yang menekankan pembelajaran kontekstual. Tidak hanya melatih logika matematika, aktivitas ini juga mengembangkan kemampuan observasi dan bahasa anak sambil quality time bareng orang tua.
3. Read Aloud Bersama Keluarga
Terinspirasi dari pendekatan Kumon yang menekankan konsistensi dan pengembangan bahasa, Read aloud atau membacakan cerita dengan suara nyaring adalah kegiatan belajar anak saat liburan yang powerful untuk anak sekaligus sebagai momen bonding yang berharga untuk keluarga. Orang tua atau anak bisa memilih cerita yang bertema sehari-hari atau fantasi ringan, lalu ajak anak berinteraksi dengan menanyakan “Apa yang terjadi dengan karakter ini, ya?” atau “Coba tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!”. Agar suasana menjadi lebih hidup dan menarik, orang tua bisa memvariasikan intonasi dan ekspresi wajah saat membacakan cerita kepada anak. Terakhir, jangan ragu membacakan ulang buku favorit anak karena pengulangan adalah kunci pembelajaran usia dini.
Penutup—Liburan Anak Tak Lagi Membosankan Dengan Aktivitas Edukatif ala Kumon
Asli deh, ketinggalan zaman banget kalau masih pakai alasan liburan buat kabur dari proses pembelajaran. Kini liburan nggak lagi jadi masa stagnasi belajar, melainkan kesempatan emas untuk menumbuhkan kemandirian dan kemampuan akademik anak dengan cara yang lebih fun. Seperti 3 kegiatan belajar anak saat liburan di atas, Kumon membuktikan bahwa pembelajaran konsisten dapat membangun fondasi kuat untuk masa depan anak dengan pendekatan yang bertahap dan personalized. Yang terpenting, setiap anak bisa belajar sesuai ritmenya sendiri, bahkan di sela waktu liburan.
Kalau orang tua dan anak nggak sempat melakukan aktivitas fisik, Kumon Connect juga bisa menjadi opsi aktivitas edukatif selama liburan, di mana pun dan kapan pun. Program ini memadukan fleksibilitas belajar mandiri dengan teknologi terkini, memastikan stimulasi edukatif tetap konsisten meski sedang tidak di rumah. Lembar kerja digital yang dapat diakses menggunakan tablet dengan stylus pen membuat anak merasa seperti saat mereka mengerjakan lembar kerja Kumon dengan pensil. Dengan Kumon Connect, Pembimbing Kumon dapat memantau kemajuan belajar harian siswa, sekaligus menjaga semangat belajar mereka tetap menyala.
Yuk, Cobain Gratis!
Masih ragu? Orang tua bisa memanfaatkan Program Coba Gratis Kumon pada bulan Agustus 2025 yang terbagi menjadi 2 periode, yaitu periode 1 (1-14 Agustus 2025) dan periode 2 (18-30 Agustus 2025). Dengan mencoba program ini, anak-anak bisa merasakan pengalaman belajar langsung di Kumon selama 2 minggu (4 kali pertemuan) tanpa biaya. Program ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk melihat perkembangan belajar anak setiap harinya. Program ini terbuka untuk anak usia 3 hingga 18 tahun (setara TK – SMA).
Hanya sampai 31 Agustus! Dapatkan 4 sesi belajar Kumon GRATIS di Kelas Kumon terdekat di seluruh Indonesia, hanya dengan klik link di bawah ini!
Kunjungi juga kanal resmi Kumon Indonesia berikut ini supaya nggak ketinggalan info dan tetep up to date!
Sumber dan Referensi
- UNICEF, “Early childhood development” diakses dari https://www.unicef.org/early-childhood-development, pada 20 Juli 2025
- Center on the Developing Child Harvard University, “Serve and Return: Back-and-Forth Exchange”, diakses dari https://developingchild.harvard.edu/key-concept/serve-and-return/ pada 23 Juli 2025.
