Kawal Kesehatan Ibu dan Anak bersama Inovasi Teknologi Terkini dari eHealth.co.id

   |   post date:  | update: September 4, 2024   |  5 min read

Ibu hamil sedang memegang perut dan memegang bunga. Dia melihat janin pada layar.

Masih kuingat betul dingin angin kemarau yang menyeruak kala kami sedang duduk berdampingan di ujung lorong itu. Kami adalah satu dari sekian banyak pasangan suami istri yang sedang menunggu giliran untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Terlihat ada begitu banyak perempuan sedang duduk ditemani pasangannya masing-masing. Sedangkan para laki-laki tengah sibuk bermain bersama balitanya atau bermain gim di ponsel pintarnya dalam rangka menghabiskan waktu dan membunuh kebosanan. Pemandangan yang cukup asing bagi kami yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ruang tunggu rumah sakit ini. Sungguh terharu rasanya. Memangnya apa yang lebih mengharukan daripada mendapat kesempatan untuk melihat segumpal daging yang sedang tumbuh di dalam rahim setelah terbelenggu penantian yang cukup lama?

Tiga puluh menit berlalu dan tiba giliran kami untuk bertemu dengan dokter. Bau obat-obatan dan bahan kimia menguar semakin kuat begitu resepsionis membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Dengan ramah, dokter mempersilakan kami duduk di kursi dan menanyakan apa ada keluhan dan bagaimana perasaan kami berdua. Tak ada keluhan, hanya ada kebahagiaan. Dokter pun mempersilakan aku berbaring di atas tempat tidur pasien untuk diperiksa di bagian perut. Dingin dan mendebarkan ketika perawat mulai mengoleskan dan meratakan semacam gel di perutku. Sambil memegang alat pemindai dan menunjukkan hasilnya pada layar di dinding, dokter menjelaskan bahwa aku memiliki kantung rahim dan di dalamnya terdapat janin yang kira-kira ukurannya sebesar biji selasih. Dokter bilang usianya baru sekitar 2-3 minggu dan berpesan untuk selalu menjaga si kecil dengan sepenuh hati terutama selama periode emasnya. 

Pada sesi konsultasi selanjutnya dokter memintaku untuk membawa Buku Kesehatan Ibu dan anak (KIA). Buku bersampul merah jambu itulah yang akan menjadi pegangan kami untuk memantau tumbuh kembang si kecil. Sebagaimana namanya, buku tersebut berisi informasi fundamental yang secara singkat dan padat membahas tentang kesehatan ibu dan anak yang perlu dilakukan oleh ibu, suami, dan keluarganya. Termasuk tata cara dan kewaspadaan keluarga dan masyarakat terhadap penyakit dan kondisi gawat darurat pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan balita. Sayangnya, pihak rumah sakit tempat kami berkonsultasi tersebut tidak dapat menyediakan buku KIA. Lantas, kemanakah kami harus pergi agar bisa mendapatkan buku itu?

Sebuah Penuturan yang Terbingkai Harapan

Periode emas merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut 1000 hari pertama kehidupan manusia saat masih dalam kandungan sampai berusia dua tahun. Pada masa inilah orang tua harus memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anak terutama nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi. Periode ini menjadi begitu krusial dan berharga karena pada masa inilah otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat bahkan hingga 80% sehingga sangat rentan terhadap lingkungan yang berpotensi memengaruhi struktur otak dan kemampuan kognitifnya. Terlebih, segala keputusan pada masa itu dapat memengaruhi kehidupannya kelak di masa mendatang. 

Investasi nutrisi pada periode emas harus dilakukan secara optimal guna menjaga bahkan meningkatkan kualitas generasi penerus peradaban manusia. Alasan inilah yang mendorong kami untuk berkunjung ke fasilitas tingkat satu di daerah tempat kami tinggal untuk mendapatkan buku KIA sebagaimana saran dokter. Namun, yang kami rasakan pada saat kunjungan ini cukup berbeda dibandingkan dengan kunjungan kami ke RS. Bukan. Ini bukan cerita mengerikan. Bukan pula cerita yang berisi protes maupun keluhan. Ini hanyalah sebuah penuturan dari salah seorang pasien yang berharap agar layanan kesehatan semakin lebih baik dengan berorientasi pada proses dan tujuan.

Rumah sakit dan tenaga medis
Sustainable Development ke-3: Good Health and well-being

Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) merupakan fasilitas tingkat pertama di domisili tempat kami tinggal. Tepat jam sembilan pagi, aku datang di PKM sendirian tanpa suami karena dia harus masuk kerja. Aku tak mengkhawatirkan apa pun karena PKM tersebut sangat dekat dengan rumah kami. Deretan kursi besi di ruang tunggu pasien tampak penuh sehingga aku berpikir bahwa aku datang terlalu siang. Sembari menenteng tas yang berisi fotocopy kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan kartu Indonesia Sehat, aku mengambil nomor antrean prioritas yang khusus untuk ibu hamil dan lansia. 

45 menit berlalu dan tampak jumlah antrean tak berkurang dan malah bertambah. Nomor antreanku pun dipanggil oleh resepsionis melalui pengeras suara. Aku segera maju ke depan dan menunjukkan semua data yang aku bawa. Penginputan data dilakukan melalui komputer dan aku pun mendapatkan kartu anggota PKM. Kemudian resepsionis tersebut memberikanku nomor antrean baru yang menunjukkan bahwa aku adalah pasien yang sedang antre di poli kandungan. Aku pun segera menuju ke ruang tunggu dan mendapati pemandangan yang serupa ketika aku berkunjung ke RS. Kembali aku duduk di kursi besi dan bergabung bersama dengan para ibu hamil yang lain. 

Sesi konsultasi dengan bidan berlangsung dengan lancar. Bidan melakukan pemeriksaan luar lantas menyodoriku selembar formulir yang berisi kesediaanku untuk melakukan pemeriksaan kehamilan pada trimester awal hingga akhir. Aku tidak berkeberatan karena menurutku ini cukup membantu untuk mengetahui keadaanku dan calon bayiku. Menurut bidan, untuk saat ini aku sudah memasuki trimester awal, jadi aku diharuskan untuk menjalani pemeriksaan lab. 

Pada saat pemeriksaan laboratorium, aku kembali mengantre bersama dengan para ibu lain yang juga hendak melakukan tes. Di bangku besi lain, ada juga calon pasangan pengantin yang juga hendak melakukan tes untuk keperluan menikah. Pemeriksaan lab ternyata tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya 3-5 menit untuk mengambil sampel darah dan sampel urin. Aku sedikit gemetar karena tidak terbiasa melihat benda tajam nan panjang itu menyedot darahku.

Selang 20 menit berlalu, petugas lab memanggilku untuk memberikan hasil lab yang kemudian harus kutunjukkan kepada bidan yang memeriksaku tadi. Bidan hanya memberikan keterangan bahwa hasil labnya bagus dan menyelipkan selembar kertas itu ke dalam buku KIA yang menjadi tujuan utamaku ke sini. Kini aku sudah berhasil mendapatkannya dan akan selalu kubawa ketika sesi konsultasi dengan bidan di PKM maupun dokter obgyn di RS.

Seribu hari pertama kehidupan adalah:

hari selama hamil
0

dan

hari bayi lahir ke dunia
0

Hari terasa begitu cepat berganti. Usia kehamilanku menginjak usia 40 minggu, tapi belum ada tanda-tanda bayiku ingin lahir. Melihat kondisiku yang mulai resah, bidan menenangkanku dan menganjurkan untuk dirujuk ke fasilitas tingkat lanjut. Aku dan suami segera setuju. Hanya saja, kami keberatan jika dirujuk di RS selain tempat kami biasa periksa. Kami menilai bahwa dokter dan RS yang biasa kami kunjungi memiliki catatan yang lengkap tentang riwayat kehamilanku. Di sisi lain, kami khawatir dokter baru yang akan menangani kami nantinya kurang mendapat informasi mengenai hal ini sehingga akan memengaruhi proses melahirkanku. Betapa penting kami menilai sebuah riwayat pemeriksaan yang tersimpan dalam rekam medis sehingga kami pun berpikir: adakah teknologi yang secara lebih praktis dapat mengintegrasikan dan mendokumentasikan rekam medis yang bahkan dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan ibu dan anak di 1000 hari kehidupan pertamanya?

Pemanfaatan Teknologi AI untuk Rekam Medis Elektronik yang Lebih Praktis

Pembaruan dan kemajuan teknologi membuat kita tak bisa tidak terpapar akan kecanggihannya. Bahkan, sampai-sampai kita tidak menyadari keberadaan teknologi canggih tersebut. Salah satu bidang teknologi yang kian berkembang dan menjadi daya tarik bagi sebagian orang adalah Artificial Intelligence (AI). AI sendiri dalam istilah bahasa Indonesia kerap disebut “kecerdasan buatan”.  Merupakan salah satu cabang ilmu komputer yang memiliki kemampuan untuk memecahkan suatu persoalan maupun pekerjaan seperti dan sebaik manusia lakukan. AI begitu digemari karena setidaknya memiliki tiga manfaat utama, yaitu memecahkan masalah; mengoptimalkan efisiensi; dan optimasi proses bisnis. Oleh karena keberadaannya yang dianggap bermanfaat,  penggunaan AI telah menyentuh berbagai lini kehidupan manusia, mulai dari hiburan, bisnis, pendidikan, bahkan kesehatan.

Dalam kurun waktu terakhir, perkembangan AI telah merambah dalam bidang kesehatan. Meningkatnya permintaan akan penggunaan big data medis mendorong berbagai pelaku bisnis dunia kesehatan, seperti klinik atau rumah sakit, berupaya meningkatkan efisiensi operasional dan manajemen pasien dengan mengadopsi AI. Pemanfaatan AI pada rekam medis elektronik (RME) adalah salah satu dari sekian banyak hal di lini kesehatan yang sudah mencapai titik modernisasi.

Pada umumnya, RME meliputi informasi tentang riwayat kesehatan pasien yang terdiri dari diagnosis, obat-obatan, tes, alergi, imunisasi, rencana perawatan, perawatan medis yang dipersonalisasi, dan peningkatan kualitas dan keamanan medis. Di sisi lain, RME juga memungkinkan penyimpanan data medis pasien, mulai dari proses seperti penerimaan pasien, pemeriksaan, tes darah, pengobatan, pembedahan, dan biaya pengobatan, hingga evaluasi klinis sebagai data medis yang paling dapat diandalkan dalam sistem perawatan kesehatan.

Manfaat AI 1 : Memecahkan Masalah
Manfaat AI 2: Mengoptimalkan Efisiensi
Manfaat AI 3: Optimasi Proses Bisnis

Pengintegrasian AI pada RME tersebut tidak hanya sebagai alat teknologi, melainkan juga sebagai sebuah sistem cerdas yang mampu meningkatkan akurasi hasil diagnosa. Sebagai sistem cerdas, teknologi AI tersebut mampu mengolah dan menganalisis data medis yang cukup kompleks dari berbagai sumber. Dalam proses analisisnya, AI mampu melakukan  analisis yang lebih mendalam dan komprehensif dengan menggunakan teknik machine learning dan deep learning terhadap berbagai data yang tersedia. Teknik machine learning memungkinkan AI untuk mempelajari data kemudian mengidentifikasi pola-pola yang mungkin tidak terdeteksi oleh manusia dalam waktu singkat. Sementara itu, pada teknik deep learning memungkinkan AI untuk mengidentifikasi hubungan kompleks antara berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi kondisi pasien.

Peluang dan Tantangan Pemanfaatan AI pada Rekam Medis Elektronik

Meskipun AI memiliki potensi yang besar untuk berkontribusi dan mendukung proses diagnostik medis, tapi keberadaannya tetap terbatas, yaitu untuk melengkapi peran tenaga medis atau kesehatan. Dengan kata lain, keberadaan AI hanyalah sebatas pendukung dan tidak untuk menggantikan tenaga kesehatan itu sendiri. Bersamaan dengan hal tersebut, ternyata pemanfaatan AI pada bidang kesehatan justru memunculkan berbagai peluang, risiko, dan tantangan sekaligus. 

Tak pelak, penerapan teknologi AI di bidang medis membutuhkan data dan variasi yang cukup komprehensif dalam jumlah besar. Hal ini berpotensi menyebabkan masalah dalam keamanan data medis yang bersifat pribadi dan sensitif. Oleh karena itu, penyelenggara layanan harus menerapkan prosedur yang komprehensif dan terintegrasi, serta dapat memastikan adanya upaya-upaya untuk melindungi data pribadi agar terhindar dari insiden peretasan atau kebocoran data yang berpotensi merugikan pasien.

Meresnpons perkembangan yang kian pesat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan rekomendasi berupa enam prinsip etik dalam penggunaan AI di bidang medis, yaitu melindungi hak otonom pasien; meningkatkan kesejahteraan, keselamatan, dan kepentingan umum; memastikan transparansi, tanggung jawab, dan akuntabilitas; menerapkan inklusivitas dan kesetaraan; serta Membangun AI yang responsif dan berkelanjutan. Lantas pada praktiknya, bagaimana penerapan teknologi AI di bidang medis di Indonesia?

Inovasi eHealth.co.id : Pemanfaatan AI dalam Rekam Medis Elektronik yang Terintegrasi

Kabar baiknya, saat ini kita memiliki ekosistem digitalisasi sistem informasi yang memungkinkan seluruh komponen ekosistem untuk saling bertukar data kesehatan, mulai dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), regulator, penjamin, hingga penyedia layanan digital. Ekosistem tersebut dikenal sebagai SATUSEHAT yang merupakan transformasi dari aplikasi pendahulunya, yaitu PeduliLindungi. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022, pemerintah mewajibkan seluruh fasyankes mana pun untuk menerapkan Rekam Medis Elektronik yang terintegrasi dengan SATUSEHAT. Melalui SATUSEHAT tersebut, pemerintah menjembatani berbagai fasyankes yang membutuhkan digitalisasi rekam medis dengan penyedia platform rekam medis elektronik untuk menjalin sebuah kemitraan. Di sisi lain, digitalisasi RME di rumah sakit tidak memerlukan penambahan sumber daya manusia karena RME sudah seharusnya dirancang agar mudah dioperasikan oleh tenaga kesehatan seperti dokter dan perawatnya.

ICD10 pada eHealth.co.id

Menyadari permasalahan bahwa rekam medis berbentuk kertas kerap melahirkan berbagai kesulitan, mulai dari inefisiensi waktu karena pasien harus menceritakan ulang keluhan atau penyakitnya, hingga kompleksitas tenaga medis dalam menentukan kode ICD-10 yang sesuai.  Sepasang rekan sejawat  yang memiliki visi misi seasa dan latar belakang yang sama menginisiasi pendirian eHealth.co.id, sebuah perusahaan start up yang bergerak dalam bidang rekam medis elektronik (RME). Dengan mengusung harapan terwujudnya efektivitas dan efisiensi pelayanan medis yang berorientasi pada pasien sekaligus mengurangi beban pekerjaan tenaga medis dan kesehatan, eHealth.co.id menawarkan solusi yang komprehensif dan aman untuk pengelolaan rekam medis pasien untuk berbagai institusi kesehatan. 

Telah digunakan oleh lebih dari 300 faskes di Indonesia, eHealth.co.id merupakan salah satu penyedia layanan RME yang berdaya inovasi tinggi. Dengan mengembangkan fitur-fitur pada RME, eHealth.co.id mengintegrasikan teknologi AI ke dalam RME yang tujuannya adalah mempermudah dan meningkatkan proses maupun hasil diagnosa medis. Sistem AI tersebut dirancang untuk membantu tenaga medis dalam menentukan diagnosis yang lebih cepat dan akurat berdasarkan kode ICD-10. 

Keunggulan Rekam Medis Elektronik dari eHealth.co.id

Sesuai Standardisasi

eHealth.co.id memenuhi standar tertinggi dalam pembuatan RME yang mencakup data identitas pasien, tanda vital, riwayat alergi, hasil anamnesis yang meliputi keluhan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, diagnosa, informasi medikamentosa, tindakan yang telah diambil, dan rencana perawatan. 

Mudah Digunakan

Pengguna dari berbagai latar belakang tidak memerlukan pelatihan khusus untuk mengoperasikan sistem RME dari eHealth.co.id karena kesederhanaan sistem yang ditawarkan, memastikan penggunaan yang lancar tanpa mengorbankan fungsionalitas yang krusial.

Terintegrasi PCare BPJS​

Pentingnya kerja sama dengan BPJS dapat memberikan layanan kesehatan yang berkualitas. Oleh karena itu, RME dari eHealth.co.id telah diintegrasikan dengan Pcare BPJS yang memungkinkan proses klaim dan pelayanan yang lebih baik kepada peserta BPJS.

Terintegrasi SATUSEHAT

Terintegrasi dengan SATUSEHAT, tidak hanya untuk meminimalkan potensi human error, tetapi juga untuk mematuhi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan sesuai dengan standar yang digunakan oleh IHS (Indonesia Health Service).

Berstandar FHIR HL7

 Dengan adopsi FHIR HL7, implementasi dan pertukaran data kesehatan antara berbagai sistem dapat dilakukan secara lebih efisien karena meningkatkan koordinasi perawatan dan menyediakan informasi yang lebih akurat untuk penyedia layanan kesehatan.

Keamanan ISO 27001

eHealth.co.id memastikan bahwa data rekam medis pasien aman dan terlindungi sesuai dengan standar yang diakui dan digunakan di Amerika Serikat dan lembaga kesehatan di seluruh dunia sehingga terhindar dari berbagai ancaman kebocoran data.

Pantau Kesehatan Ibu dan Anak dengan Teknologi yang Lebih Praktis dari eHealth.co.id

Pemantauan kesehatan ibu dan anak melalui rekam medis merupakan hal yang krusial dan harus dianggap sebagai bagian dari ikhtiar pada proyek besar. Pencatatan yang teratur dan berkelanjutan memungkinkan setiap perkembangan kesehatan ibu dan anak dapat dipantau dengan saksama sehingga tenaga medis mampu memberikan perawatan yang tepat. Terlebih, melalui RME yang terintegrasi dan berteknologi AI juga membuka potensi pendeteksian dini atas kondisi yang mungkin memerlukan perhatian khusus berdasarkan diagnosa medis yang lebih mendalam dan komprehensif. Ini bukan hanya tentang perawatan untuk kondisi saat ini, tetapi juga memastikan masa depan yang lebih sehat bagi ibu dan anak sebagai penerus peradaban manusia. Mari ambil peran untuk memantau dan mengawal kesehatan keluarga bersama-sama melalui rekam medis elektronik yang lengkap dan akurat dengan inovasi kecerdasan buatan dari eHealth.co.id

Khusus buat kamu yang berprofesi sebagai bidan, yuk cari tahu lebih banyak tentang pemanfaatan AI pada Rekam Medis Elektronik (RME) dan manfaatkan program BUMN ANGIN dari eHealth.co.id. Dapatkan berbagai keuntungan eksklusif seperti pelatihan RME Bidan, pengeloaan praktik pribadi efisien dan modern, dan bantuan integrasi ke SatuSehat untuk memudahkan pemantauan kesehatan ibu dan anak. Daftarkan dirimu segera melalui tombol di bawah ini dan jadilah satu dari 100 orang pilihan yang berkesempatan untuk mendapatkan peluang emas ini!

  1. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan): Bahan Penyuluhan Bina Keluarga Balita Bagi Kader. (Jakarta: BKKBN, 2017).
  2. Hadi, Dino Lesmana. Artificial Intelligence Solusi Penyelesaian Masalah. (Lombok Tengah: Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia, 2002).
  3. Pasaribu, Manerep dan Albert Widjaya. Artificial Intelligence: Perspektif Manajemen Strategis. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2022).
  4. Sudargo, Toto dkk. 1000 Hari Pertama Kehidupan. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2018).
  5. Lee, Suehyun dan Kim HS. “Prospect of Artificial Intelligence Based on Electronic Medical Record”. Journal of Lipid Atheroscler. Sep, 2021 [282-290].
  6. Primastya, Sigit. “Perlindungan Terhadap Perkembangan Layanan Kesehatan Berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) di Indonesia”. Jurnal Globalisasi Hukum. Vol. 1 No. 1 , April 2024 [78-94]. 
  7. Trenggono, Patriot Haryo dan Adang Abchtiar. “Peran Artificial Intelligence dalam Pelayanan Kesehatan: A Systemic Review”. Jurnal Ners Universitas Pahlawan. Vol. 7 No. 1, 2023 [444-451].
  8. eHealth.co.id. Rekam Medis Elektronik. Diakses melalui https://ehealth.co.id/fitur/operasional-harian/rekam-medis-elektronik/ pada 19 Agustus 2024.
  9. eHealth.co.id. Menentukan Diagnosis Lebih Cepat & Akurat dengan AI. Diakses melalui  https://ehealth.co.id/blog/post/menentukan-diagnosis-lebih-cepat-and-akurat-dengan-ai/ pada 19 Agusus 2024.
  10. eHealth.co.id. Inovasi RME eHealth.co.id Memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Diakses melalui https://ehealth.co.id/blog/post/inovasi-rme-e-health-co-id-memanfaatkan-artificial-intelligence-ai/ pada 19 Agustus 2024.
  11. Sehat Negeriku. Ayo Tingkatkan Pemanfaatan Buku KIA untuk Pantau Kesehatan Ibu dan Anak. Diakses melalui https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180919/0627969/ayo-tingkatkan-pemanfaatan-buku-kia-pantau-kesehatan-ibu-dan-anak/ pada 16 Agustus 2024.
  12. SATUSEHAT. Apa itu SATUSEHAT? Diakses melalui https://satusehat.kemkes.go.id/platform/docs/id/playbook/introduction/ pada 18 Agustus 2024.
  13. SATUSEHAT. Sistem RME. Diakses melalui https://satusehat.kemkes.go.id/platform/system-rme-list pada 18 Agustus 2024.