Memelihara Semangat Minli dalam Diri melalui Buku "Where the Mountain Meets the Moon"

   |    January 20, 2024   |  3 min read

Where the Mountain Meets the Moon: Tempat Gunung Berjumpa Rembulan

Identitas Buku

  • Judul: Where the Mountain Meets the Moon: Tempat Gunung Berjumpa Rembulan
  • Tanggal Rilis: 1 Desember 2010
  • Penerbit: Penerbit Atria
  • Genre: Asian Literature, Fantasi, Fiksi, Anak-anak, Petualangan, Young Adult.
  • Jumlah halaman: 266 halaman
  • Jenis sampul: Paperback
  • Bahasa: Indonesia
  • ISBN: 9789790244603

Grace Lin

Penulis

Tanpa gambar

Berliani M. Nugrahani

Alih Bahasa

Sinopsis​

Di sebuah gubuk reyot di kaki Gunung Nirbuah, hiduplah Minli bersama kedua orangtuanya. Mereka bekerja keras setiap siang, dan setiap malam, ayah Minli menuturkan dongeng-dongeng tua tentang Naga Giok dan Kakek Rembulan, yang mengetahui jawaban dari segala pertanyaan.

Berbekal keyakinan pada dongeng-dongeng itu, Minli memulai sebuah petualangan besar untuk mencari Kakek Rembulan dan menanyakan cara untuk mengubah peruntungan keluarganya. Sejumlah tokoh dan binatang ditemuinya di sepanjang jalan, termasuk naga yang menemaninya hingga akhir petualangannya.

Berhasilkah Minli menemui Kakek Rembulan dan mendapat jawaban atas pertanyaan yang hendak diajukannya?

Ulasan

Where the Mountain Meets the Moon adalah satu dari beberapa buku yang sering kali saya baca ulang karena ada banyak sekali hal yang membuat saya menemukan diri saya kembali setelah membacanya. Dapat saya katakan bahwa ini adalah one of my comfort book all the time.

Terinspirasi dari cerita rakyat Tiongkok, buku ini menceritakan kisah Minli dan kedua orang tuanya yang tinggal di sebuah gubuk reyot di kaki Gunung Nirbuah. Sebagaimana namanya, gunung itu tak pernah menghasilkan apa-apa selain cucuran keringat para penghuninya yang selalu bekerja keras demi tetap bertahan hidup di tanah kering kerontang itu. Mereka berlelah-lelah setiap siang, dan setiap malam, ayah Minli menceritakan dongeng-dongeng tentang Kakek Rembulan, seorang yang mengetahui jawaban dari segala pertanyaan. Sementara itu, ibu Minli yang penggerutu kerap mengutuk nasib mereka sendiri dan selalu sebal ketika ayah sudah mulai mendongeng. Berbekal keyakinan pada dongeng-dongeng itu, Minli memulai petualangan besarnya dan bertekad menemukan Kakek Rembulan untuk menanyakan cara mengubah nasib keluarganya.

Premis dalam buku ini bisa dikatakan sederhana, yakni keinginan Minli untuk mengubah nasib keluarganya agar menjadi lebih baik. Namun, yang membuatnya seru adalah Grace Lin dapat mengelaborasi cerita petualangan Minli ini dengan mitologi Tiongkok kemudian menautkan satu sama lainnya dengan cara yang mendebarkan. Tak heran jika pembaca akan terdorong untuk menyimak plot secara detail dan menunggu kejutan apa yang akan datang selanjutnya.

Kisah Minli ini kerap membuat saya berpikir bahwa sebenarnya kita semua punya semangat Minli dalam diri kita, lho! Tapi kita sering kali terlambat untuk menyadarinya, mengabaikannya, dan merapuhkannya bahkan jauh sebelum kita menyadari semangat itu benar-benar ada dan menyala. Bagi mereka yang berusia masih anak-anak, buku ini memang cukup menghibur, dapat memantik imajinasi, dan sarat akan nilai moral yang edukatif. Namun, setelah beranjak dewasa, buku ini seolah menjadi pengingat “siapa sih di antara kita yang tidak ingin punya nasib baik (terkait finansial)?” Mengingat living cost atau biaya hidup yang semakin mahal dan sering kali sudah berada di luar nalar, maka kita akan punya pilihan: mengutuk nasib atau melawan nasib seperti Minli.

Terlepas dari itu semua, saya sangat mengapresiasi Penerbit Atria dan alih bahasanya (Berliani M. Nugrahani) yang menghadirkan buku ini dalam bahasa Indonesia dan membuat saya tidak merasa lost in translation. Oleh karena pemilihan kata yang sederhana dan enak dibaca, saya bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu singkat dan selalu rindu untuk membacanya lagi.